Penelitian ini berangkat dari kegelisahan ekologis yang melanda Daerah Aliran Sungai Brantas sebagai salah satu nadi kehidupan masyarakat Jawa Timur yang kian terpuruk oleh pencemaran dan eksploitasi tanpa kendali. Krisis ini bukan hanya soal lingkungan, melainkan juga soal moralitas dan spiritualitas manusia yang kehilangan kesadaran akan tanggung jawabnya terhadap ciptaan. Dalam konteks demikian, penelitian ini memfokuskan diri pada upaya menyingkap bagaimana pendidikan agama, sebagai pilar pembentukan kesadaran iman, dapat berperan sebagai motor penggerak mitigasi krisis ekologi. Dengan menelisik pengalaman Pondok Pesantren Mafatihul Muhtadin Malang, Gereja Isa Almasih Klayatan, dan Lingkungan St Andreas Paroki Maria Diangkat ke Surga Malang, penelitian ini mencoba merumuskan wajah ekoteologi Islam, Kristen Protestan, dan Katolik yang berakar pada praksis lokal. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif dengan paradigma fenomenologis, menekankan observasi, wawancara, serta dokumentasi yang mendalam di ketiga lokus penelitian. Data lapangan kemudian dianalisis secara hermeneutis dan dialogis dengan teori ekoteologi dari berbagai tradisi serta kerangka etika lingkungan. Dari proses itu, terungkap bahwa pendidikan agama di ketiga komunitas tidak hanya berhenti pada transmisi doktrin, tetapi berkembang menjadi ekopedagogi praksis yang menanamkan kesadaran ekologis melalui liturgi, katekese, khotbah, gerakan sosial, hingga aksi nyata menjaga lingkungan. Dengan demikian, pendidikan agama menemukan relevansinya sebagai medan dialektis antara teks suci, iman umat, dan realitas ekologis kontemporer. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa meskipun ketiga tradisi agama memiliki corak teologis yang berbeda, semuanya berpijak pada satu benang merah yakni tanggung jawab profetik terhadap keutuhan ciptaan. Islam menghidupi nilai khalifah dan amanah, Kristen Protestan menekankan semangat faith in action, sementara Katolik menyalakan api pertobatan ekologis yang diilhami Laudato Si. Bersama-sama, ketiganya menghadirkan praksis iman yang transformatif, kontekstual, dan profetik, yang tidak hanya membentuk kesalehan spiritual, tetapi juga kesalehan ekologis. Dengan demikian, penelitian ini menyumbang kebaruan dalam literatur ekoteologi Indonesia, yakni bahwa pendidikan agama lintas tradisi dapat menjadi instrumen strategis dalam membangun kesadaran ekologis dan solidaritas lintas iman untuk menyelamatkan Brantas sebagai rumah bersama.
Fannani et al. (Fri,) studied this question.