Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kegiatan eksperimen sederhana terhadap kemampuan mengklasifikasikan benda pada anak usia 4–5 tahun di TK Islam Insan Mulia Mojokerto. Dalam kegiatan eksperimen sederhana dilaksanakan selama 5 kali pertemuan dengan durasi 30 menit dalam setiap pertemuan. Anak mengklasifikasikan benda berdasarkan sifatnya dalam air, yaitu benda yang tenggelam dan terapung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis eksperimen semu (quasi experimental design) dengan rancangan pretest–posttest control group design. Subjek penelitian berjumlah 30 anak usia 4 - 5 tahun yang terbagi ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, penetapan kelompok secara non-acak berdasarkan kelas yang tersedia. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes kinerja mengklasifikasikan benda, di mana anak mengelompokkan benda berdasarkan hasil percobaan tenggelam dan terapung, yang dinilai menggunakan lembar observasi dengan lima indikator kemampuan mengkasifikasikan benda. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan uji independent t-test terhadap nilai selisih (gain) kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mengalami peningkatan kemampuan mengklasifikasikan benda yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Rata-rata skor gain kemampuan mengklasifikasikan benda pada kelompok eksperimen (M = 3,40; SD = 1,06) lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (M = 0,33; SD = 1,18). Uji independent t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan p < 0,001 dengan ukuran efek sangat besar (Cohen’s d = 2,75). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan eksperimen sederhana berpengaruh untuk meningkatkan kemampuan mengklasifikasikan benda.
Lestari et al. (Wed,) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: