Bahasa: Zakat merupakan instrumen penting dalam ekonomi Islam yang berperan sebagai ibadah sekaligus sarana pemberdayaan dan pemerataan ekonomi. Di Masjid Raudhotul Jannah, Cipadu Jaya dan Kreo Selatan, pengelolaan zakat, infaq, dan shodaqoh (ZIS) masih dilakukan secara manual, sehingga menimbulkan kendala dalam pengelolaan data dan efisiensi distribusi zakat. Selain itu, rendahnya keterampilan produktif mustahik menyebabkan jumlah penerima zakat meningkat melampaui ketersediaan dana. Untuk mengatasi hal tersebut, program pengabdian ini dilaksanakan dengan pendekatan participatory action research yang melibatkan 30 mustahik sebagai partisipan. Program meliputi pelatihan keterampilan menjahit, produksi keripik singkong, dan pemasaran digital, serta penerapan aplikasi manajemen zakat berbasis Android dan web. Hasil menunjukkan bahwa 54,72% peserta pelatihan menjahit berhasil memproduksi gamis dan rok. Pelatihan pemasaran digital juga berhasil meningkatkan kemampuan peserta dalam memasarkan produk secara daring melalui platform seperti Shopee. Sementara itu, sistem digital ZIS meningkatkan efisiensi, akuntabilitas, dan transparansi dalam pengelolaan zakat. Program ini menunjukkan bahwa integrasi pemberdayaan ekonomi mustahik dan transformasi digital dalam pengelolaan ZIS mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mendorong kemandirian ekonomi, serta mengurangi ketergantungan terhadap dana zakat. Kata Kunci: pelatihan menjahit, keripik singkong, pemasaran digital, aplikasi zakat berbasis web dan android English: Zakat is an important instrument in Islamic economics that functions as an act of worship and a tool to encourage economic balance and community empowerment. In Raudhotul Jannah Mosque, Cipadu Jaya and Kreo Selatan Urban Village, the management of zakat, infaq, and shodaqoh (ZIS) is still done manually, causing data collection and distribution of zakat to be less than optimal. The low productive competence of zakat recipients causes the number of zakat recipients to continue to increase, exceeding the capacity of available funds. To overcome this problem, the team offers a solution through a community service program through the empowerment of zakat funds. This program includes skills training such as sewing, cassava chips production, and digital marketing. The results of this training increased the competence of the participants, where 54.72% of the sewing training participants completed making a robe and skirt. In addition, digital marketing training allows participants to market their products online through platforms such as Shopee. The program also optimizes digital-based zakat management to improve distribution efficiency and transparency. Overall, empowering zakat funds is expected to improve community welfare, encourage economic independence, and reduce dependence on zakat funds. Keywords: sewing training, cassava chips, digital marketing, web-based and android zakat application
Indra et al. (Mon,) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: