Penelitian ini menganalisis pergeseran makna dan integrasi budaya lokal dalam penerjemahan Tarbiyatus Shibyan ke bahasa Madura oleh KH. Habibullah Ra’is. Sebagai teks pendidikan Islam klasik yang digunakan luas di pesantren, terjemahan ini menunjukkan bahwa proses alih bahasa tidak hanya bersifat linguistik, tetapi juga merupakan praktik transkultural yang menghubungkan nilai-nilai Islam universal dengan sistem etika masyarakat Madura. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk integrasi budaya, teknik penerjemahan, serta kontribusi pergeseran makna terhadap internalisasi ajaran Islam di lingkungan pesantren. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian dilakukan melalui analisis isi terjemahan serta wawancara mendalam dengan pengasuh, ustadz, dan santri senior Pondok Pesantren Al-Is’af, dengan menempatkan teori penerjemahan kultural sebagai kerangka utama. Hasil penelitian menunjukkan adanya penggunaan padanan budaya, modulasi, idiomatisasi lokal, dan padanan fungsional yang menghasilkan teks lebih komunikatif dan kontekstual. Sejumlah konsep mengalami perluasan makna agar selaras dengan norma sosial Madura, seperti penegasan etika hormat kepada guru dan konkretisasi ajaran ikhlas. Temuan ini menegaskan bahwa penerjemahan berbasis lokalitas efektif memperkuat pemahaman, kedekatan emosional, dan internalisasi nilai Islam, serta berperan dalam pembentukan identitas keagamaan masyarakat pesantren Madura.
Semeer et al. (Sat,) studied this question.