Sejarah sains menunjukkan bahwa realitas yang mendalam sering kali diekspresikan melalui relasi konseptual yang kompak. Salah satu contoh paling berpengaruh adalah persamaan E = mc², yang mengungkapkan kesetaraan mendalam antara massa dan energi. Terinspirasi oleh tradisi kompresi intelektual ini, makalah ini mengeksplorasi apakah keagenan manusia juga memiliki arsitektur konseptual yang mendasarinya dan dapat diekspresikan dalam bentuk yang serupa. Kerangka yang diusulkan, Sovereign Consequence Architecture (SCA), menyatakan bahwa kognisi manusia berbeda dari sistem komputasional murni melalui kesadaran konsekuensi yang sadar. Sementara kecerdasan buatan dapat mereplikasi kalkulasi dan pengenalan pola, manusia mengintegrasikan kesadaran, refleksi etis, dan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan. Untuk mengekspresikan hubungan ini, sebuah formula konseptual diperkenalkan: (Kesadaran × Kalkulasi) Kemanusiaan < Transendensi Ekspresi ini tidak dimaksudkan sebagai persamaan matematis melainkan sebagai representasi arsitektur dari hubungan antara kognisi, tanggung jawab, dan batas pemahaman rasional. Makalah ini selanjutnya memperkenalkan konsep Sovereignty Gap — kondisi yang muncul ketika Kekuatan Memutuskan terpisah dari Kepemilikan Konsekuensi — sebagai alat analitis untuk mengevaluasi tata kelola AI, sistem keputusan manusia, dan etika teknologi.
Kian Tik Go (Mon,) studied this question.