Latar belakang: Sekitar 70% pasien epilepsi di dunia dapat terbebas dari kejang dengan penggunaan obat antiepilepsi. Namun, beberapa wilayah di Indonesia masih banyak pasien epilepsi yang tidak patuh terhadap pengobatan yang berakibat pada minimnya kontrol kejang. Salah satu faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan pasien epilepsi adalah persepsi stigma. Tujuan: untuk mengetahui hubungan persepsi stigma dengan kepatuhan minum obat antiepilepsi (OAE) pada pasien epilepsi. Metode: survei yang dilakukan menggunakan kuesioner Epilepsy Stigma Scale (EES) untuk menilai stigma yang dimiliki pasien dan Morisky Medication 8-item Adherence Scale (MMAS-8) untuk menilai kepatuhan pasien. Sampel penelitian adalah pasien epilepsi rawat jalan di sebuah rumah sakit di Surabaya pada tahun 2023. Sampel penelitian dikumpulkan secara purposive sampling. Hasil: Sejumlah 53 pasien terlibat dalam penelitian ini. Usia rata-rata pasien adalah 40,09+13,54. Rata-rata skala persepsi stigma pasien adalah rendah (30,26 ± 12,829 dari skor maksimum 70) dan rata-rata tingkat kepatuhan pasien tergolong sedang (6,3962 ± 1,823). Hasil analisis hubungan stigma dan tingkat kepatuhan minum obat dilakukan dengan menggunakan uji Kendall’s tau b didapatkan hubungan yang tidak signifikan (r = -0.096; p>0.05). Kesimpulan: persepsi stigma pasien tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kepatuhan pasien dalam menggunakan obat antiepilepsi yang menjalani rawat jalan di rumah sakit.
Kristianto et al. (Sat,) studied this question.