Key points are not available for this paper at this time.
Along with the times, humans gradually growing too. This different time which is the main holder of changes in human nature that unconsciously causing many things, like in social terms. Technology, economy, knowledge, safety, social level, and place become a factor that affect human’s social changes. These social changes can refer to individualistic and do not care about the surrounding environment, so empathy seems to never be heard agin in this era, especially in urban. Empathy includes the ability to feel the emotional statre of others, feel sympathetic and try to slove problems, and take other people’s perspective (Baron labyrinth; Pegadungan; phenomenology; sense AbstrakSeiring perkembangan zaman, manusia semakin berkembang pula. Perubahan sifat manusia menjadi pemegang kunci utama yang tanpa disadari menimbulkan salah satunya dalam hal sosial. Teknologi, ekonomi, pengetahuan, keamanan, tingkat sosial, dan tempat menjadi faktor yang mempengaruhi perubahan sosial manusia. Perubahan sosial tersebut seperti manusia yang individualis dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitar, sehingga kata empati seakan tidak ada saat ini, terutama di daerah perkotaan. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain (Baron & Byrne, 2004). Faktanya, studi terbaru menunjukan rasa empati dalam diri seseorang semakin langka, sebanyak 65% orang bersikap tidak peduli atau kehilangan empati (Daily mail, 2019). Padahal empati merupakan hal penting menurut Graaff dkk, (2014), empatilah yang menggaris bawahi pentingnya kemampuan, tingkah laku dan sebuah peran yang sangat penting dalam pengembangan moral dan perilaku prososial. Menurutnya tingkat empati masyarakat di kota besar menjadi faktor utama bagi perancang untuk merancang sebuah Wadah Pengembangan Empati Pegadungan yang dapat menjaga maupun mengembangkan rasa empati tersebut melalui pendekatan fenomenologi indera manusia, sebagai wadah pelatihan untuk merasakan emosi sesama melalui ruang arsitektur, salah satunya pada labirin. Proyek ini menggunakan metode dari teori Juhani Pallasmaa “An architecture of seven sense” dan “The eyes of the skin: architecture and sense” dan melalui pengumpulan data dari BPS DKI Jakarta, jurnal ilmiah, e-book, survei, wawancara dan kuisioner, serta analisis kebutuhan masyarakat sekitar. Dengan ini diharapkan rasa empati tetap terasa dan terjaga sampai kapanpun, dengan desain sesuai dengan karakteristik empati.
Angelyna et al. (Sun,) studied this question.