In Indonesia, plurality of historical religion, ethnic, culture, and language madenational consciousness in the historical course up to now. This phenomenon made public disappointed, especially regarding to the rise of intolerance, and violence. This article is about the importance of multiculturalism as an alternative to develop peacefully life awareness and togetherness in the context of national and universal humanity. In this case, the multiculturalism necessitates coexistence, openness, recognition, understanding, acknowledgement, and appreciation. The comparison between Indonesia and Egypt in building multicultural awareness, especially through the philosophy of unity in diversity and Qabul al-Akhar. Pluralitas agama, suku, budaya, dan bahasa yang bersejarah di Indonesia telahmembuat kesadaran kebangsaan dalam lintasan sejarah hingga sekarang. Fenomena ini mengkhawatirkan publik, terutama perihal maraknya intoleransi, dan kekerasan. Artikel ini tentang pentingnya multikulturalisme sebagai alternatif membangun kesadaran hidup kebersamaan secara damai dalam konteks kebangsaan dan kemanusiaan universal. Dalam hal ini, multikulturalisme meniscayakan koeksistensi,keterbukaan, pengenalan, pemahaman, pengakuan, dan penghargaan. Perbandingan antara Indonesia dan Mesir dalam membangun kesadaran multikultural, terutama melalui falsafah Bhinneka Tunggal Ika dan Qabul al-Akhar.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Zuhairi Misrawi (1970) studied this question.
Synapse has enriched 3 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: