AJurnal Ekonomi Pertanian Unmal, Volume 02 Nomor 02 Desember 2021 E-ISSN : 2614-4565URL : http://ojs.unimal.ac.id/index.php/JEPU PENGARUH INFLASI DAN PRODUK DOMESTIK REGIONALBRUTO (PDRB) SEKTOR PERTANIAN TERHADAP NILAI TUKAR PETANI DI PROVINSI ACEH TAHUN 2008-2019 Jumilah a*, Devi Andriyani a*aFakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh * Corresponding author : Jumilaarga11@gmail.com* devisep80@gmail.com A R T I C L E I N F O R M A T I O N A B S T R A C T Keywords:Inflation, Agricultural Sector GRDP, Farmers Exchange Value, Farmers Exchange Rate. This study examined the influence of inflation and PRDB in the agricultural sector on farmer exchange rates in Aceh province. The data used was quantitative data with a time-series approach from 2008 to 2019. The analytical method used was Multiple Linear Regression. Partial test results showed that inflation did not affect Farmer Exchange Rates, while GRDP in the Agricultural Sector negatively and significantly influenced Farmer Exchange Rates. Furthermore, the simultaneous test results showed that inflation and GDP in the agricultural sector positively and significantly influenced Aceh Farmer Exchange Rate. The determination coefficient (R2) was 0.5233, which indicated that the ability of the independent variables to explain the dependent variable was 51.33%, while the remaining 48.67% was influenced by other variables outside the model. The results of the correlation coefficient obtained in this study are R = √R2 = √0.6018 = 0.7757. So it concluded that inflation and GRDP in the Agricultural Sector had a significant and positive relationship to the Farmer Exchange Rate because the correlation value of 77.57% was almost close to a positive one (1). 1. PENDAHULUANPembangunan disegala bidang merupakan arah dan tujuan kebijakan Pemerintah Indonesia.Adapun hakikat sosial dari pembangunan itu sendiri adalah peningkatan kesejahteraan bagi seluruh penduduk Indonesia. Mengingat bahwa sebagian besar penduduknya Indonesia tinggalnya di daerahnya pedesaannya dengan mata pencaharian bertumpu pada sektornya pertanian, makanya sangat diharapkannya sektornya pertaniannya ini dapatnya merupakan motornya penggerak pertumbuhannya yang mampunya meningkatkannya pendapatan para petani dan mampu mengentaskan kemiskinan (Nirmala et al., 2016).Berikut adalah perkembangan pada nilai PDRB pertanian, tingkat inflasi dan nilai tukar petani yang ada di provinsi Aceh 2015-2019.Tabel 1Perkembangan NTP, Inflasi dan PDRB sektor Pertanian Provinsi AcehTahun 2015-2019TahunNTP(%)Inflasi(%)PDRB(%)201596.631.5329.13201696.273.9529.39201794.754.2529.74201894.731.8429.74201992.281.6929.54Sumber: BPS Aceh, 2020.Berdasarkan tabel 1.1 di atas dapat dilihat bahwa Nilai Tukar Petani (NTP), inflasi, dan PDRB sektor pertanian di Provinsi Aceh cenderung fluktuatif. Dimana secara umum terlihat bahwa NTP setiap tahunnya mulai mengalami penuruan bahkan nilainya berada dibawah 100, halnya ini dapatnya dilihatnya pada tahun 2015 NPT Aceh tercatat sebesar 96.63% dan terus menurun hingga tahun 2019 menjadi sebesar 92.28%.Nilai NTP yang berada dibawah 100 memberikan gambaran bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat aceh sangat rendah, dan hal ini harus adanya perhatian khusus dan tindak lanjut dari pemerintah Aceh.Jika dikaitkan dengan perkembangan inflasi yang terjadinya di Aceh Secara teoritis diungkapkan bahwa peningkatan inflasi akan menyebabkan nilai tukarnya petani yakni indeksnya harganya yang dibayarkan petani akan mengalami peningkatan, sedangkan indeks harga yang diperoleh petani tetap karena tidak diikutinya dengan kenaikannya harga gabahnya. Berdasarkan data tahun 2017 dapat dilihat bahwa nilai inflasi berada pada tingkat tertinggi yakni 4,25%, namun nilai tukar petani semakin rendah berada pada angka 94.75%, hal ini disebabkan karena harga jual gabah ditingkat petani tidak mengalami kenaikan meskipun harga kebutuhan pokok ikut naik, hal ini menyebabkan pendapatannya yang diterimanya petani tidak mencukupi untuk memenuhinya kebutuhannya pokok dan modal bertani.Faktor inflasi dapat mempengaruhi Nilai Tukar Petani (NTP) dimana tingginya tingkat inflasi menyebakan petani tidak mampu membeli sarana produksi pertanian. Petani harus menghemat dan sebagian menggunakan sarana produksi alternatif meskipun kurang berkualitas. Dampak yang terjadi, menurunnya jumlah produksi yang berakibat nilai tukar petani menjadi rendah.Faktor selanjutnya adalah PDRB sektor pertanian. Sebagimana yang kita ketahui bahwa PDRB sektor pertanian sangat berpengaruh penting dalam perkembangan NTP, Secara teoritis nilai tukar petani mempunyai kegunaan untuk mengukur kemampuan tukar barang dijual petani dengan produk yang dibeli petani pada kebutuhan rumah tangga. Kenaikan pendapatan bruto sektor pertanian khususnya mengindikasikan jika pendapatan petani mengalami peningkatan. Hal yang berbeda terjadi pada tahun 2016 dimana nilai PDRB sektor pertanian tercatat sebesar 29.13% dan terus meningkat hingga tahun 2018 sebesar 29.74% namun nilai tukar petani justru mengalami penurunan yaitu sebesar 96.63% ditahun 2016 dan semakin rendah sampai tahun 2018 sebesar 94,73%, sedangkan tahun 2019 PDRB sektor pertaniannya dan Nilai Tukarnya Petani sama-sama mengalami penurunan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis Pengaruh Inflasi dan PDRB Sektor Pertanian Terhadap Nilai Tukar Petani di Provinsi Aceh.Selanjutnya bagian kedua dari penelitiannya ini akannya membahas tinjauan teoritis, metode penelitian akan dibahas pada bagian ketiga. Kemudian pada bagian ke empat akan dibahas hasil penelitian dan pembahasan. Pada bagiannya kelima akan membahas kesimpulan dannya saran. 2. TINJAUAN TEORITIS Nilai Tukar PetaniAlat ukur kemampuan tukar barang barang (produk) pertanian yang dihasilkannya petani terhadapnya barang dan jasanya yang diperlukannya untuknya konsumsi rumah tangganya dan kebutuhannya dalam memproduksi hasil pertanian adalah definisi dari Nilai tukar petani. NTP juga diartikan angka perbandingannya antara indeksnya harga yang diperoleh petaninya dengan indeksnya harga yang dibayarnya petani (BPS Aceh, 2019).Menurut Riyadh (2015) NTP merupakannya hubungan antaranya hasil pertaniannya yang dijualnya petani dengan barangnya dan jasanya lain yang dibelinya oleh petaninya. Selanjutnya Faridah Nurul (2016) menyebutkan bahwa Nilai Tukarnya Petani adalah perbandingan atau rasionya antara indeksnya harga yangnya diterima petaninya dengan indeksnya harganya yang dibayarnya petani. NTP ditunjukkannya dalam bentuknya rasio antaranya indeks harganya yang diterimanya petani, yakni indeksnya harga jualnya outputnya, terhadapnya indeks harganya yang dibayarnya petani, yakni indeksnya harga input-inputnya yang digunakannya untuk bertaninya, misalnya pupuknya, pestisidanya, tenaga kerjanya, irigasi, bibit, sewa traktor, dan lainnya. InflasiMenurut Herlianto (2013) inflasi merupakan suatu gejala yang menunjukkan harga-harga mengalami kenaikan secara umum. Secara sederhnana inflasi diartikan sebagai keadaan meningkatnya harga secaranya umumnya dan terus menerus.Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali jika kenaikkan inflasi tersebut meluass (atau menyebabkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Perhitungan inflasi dlakukan dalam rentang waktu minimal bulanan (Wardhani, Kusuma, 2017).Salah satu peristiwa modern yang sangatnya penting dan yang selalu dijumpai dihampir semua negara di dunia adalah inflasi. Definisi singkat dari inflasi adalahnya kecenderungannya harga-harganya untuk menaiknya secaraumum dan terusnya menerus, hal ini tidak berarti bahwa harga-harga berbagai macam barang itu naik dengan presentase yang sama. Mungkin kenaikan tersebut dapat terjadi tidak bersamaannya, yang pentingnya terdapat kenaikannya harga umumnya barangnya secaranya terus menerusnya selama satu periode tertentu. Kenaikannya yang terjadinya sekali sajanya meskipunnya dalam presentasenya yang besarnya, bukanlah merupakannya inflasinya (Mankiw N, 2006). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Indikator pentingnya untuknya dapat mengetahuinya kondisi ekonominya suatu daerahnya dalam kurunnya waktu tertentunya ialah menggunakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dapat menggunakan atasnya dasar harganya berlaku ataupun atas dasarnya harga konstannya. Menurutnya Sukirno (2012) pertumbuhannya ekonomi merupakannya kenaikan outputnya per kapitanya dalam jangkanya yang panjangnya, penekanannya ialahnya pada tiganya aspek yakni prosesnya, outputnya per kapitanya, serta jangkanya panjang. Pertumbuhan ekonomi merupakan proses, bukan hanya gambaran ekonomi sesaat. Pembangunan daerah serta pembangunan sektoral harus dilaksanakan sejalan agar pembangunan sektoral yang beradanya di daerah-daerah dapat berjalan sesuainya dengan potensi serta prioritas daerah.Produk Domestik Bruto (PDB) merupakannya salah satunya indikatornya makro ekonomi yang padanya umumnya digunakannya untuk mengukurnya kinerja ekonominya di suatu negaranya. Sedangkan untuknya tingkat wilayahnya, baiknya di tingkatnya wilayahnya propinsi maupunnya kabupaten ataunya kota digunakannya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB merupakannya bagian darinya PDB, sehingganya perubahannya PDRB yang terjadinya ditingkatnya regional akannya berpengaruhnya terhadapnya PDB atau sebaliknya Raharjonya (Simanjuntak Bhakti, 2018). Kerangka Konseptual Gambar 1. Kerangka KonseptualKerangka konseptual gambar 1 di atas menjelaskan pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat, yaitu pengaruh inflasi (x1) dan produk domestic regional bruto (x2) terhadap nilai tukar petani (y) yang akan di uji secara parsial dengan mengguakan uji t, dan secara bersama-sama seluruh variabel independen terhadap dependen dengan menggunakan uji f. Hipotesis Adapun hipotesis alternatif yang diberikannya dalam penelitiannya ini adalahnya sebagainya berikut :H1 = Diduga inflasi berpengaruh Negatif dan Signifikan t
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Jumilah et al. (2021) studied this question.
Synapse has enriched one closely related paper. Consider it for comparative context: