Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa sejumlah ayat Al-Qur’an, khususnya dalam Juz 26–30 yang banyak memuat tema eskatologis, tidak selalu dapat dipahami secara tepat hanya melalui penerjemahan harfiah. Hal tersebut disebabkan oleh penggunaan lafaz dalam makna majazi yang memerlukan pemahaman terhadap konteks dan hubungan makna. Tanpa analisis kebahasaan yang memadai, penggunaan lafaz majazi berpotensi menimbulkan kekeliruan dalam memahami makna ayat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis penggunaan majaz mursal dalam ayat-ayat Al-Qur’an Juz 26–30, termasuk bentuk hubungan (‘alaqah) dan qarinah yang menyertainya. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data primer penelitian berupa ayat-ayat Al-Qur’an dalam Juz 26–30, sedangkan data sekunder diperoleh dari kitab tafsir, buku balaghah, dan artikel jurnal ilmiah yang relevan. Populasi penelitian mencakup seluruh ayat dalam Juz 26–30, sedangkan sampel penelitian berupa ayat-ayat yang mengandung majaz mursal. Pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dengan teknik catat, sedangkan analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 31 ayat dalam Juz 26–30 yang mengandung majaz mursal, yang terbagi ke dalam delapan bentuk ‘alaqah, yaitu as-sababiyyah, al-musabbabiyyah, al-juz’iyyah, al-kulliyyah, al-mahalliyyah, al-haliyyah, i‘tibar ma kana, dan i‘tibar ma yakunu. Setiap penggunaan majaz mursal disertai qarinah, baik berupa ‘aqliyyah maupun hāliyyah/siyāqiyyah, yang menghalangi pemaknaan lafaz secara hakiki dan mengarahkan pemahaman pada makna majazi sesuai dengan konteks ayat. Penelitian ini menunjukkan bahwa majaz mursal berperan dalam memperkaya dan memperjelas penyampaian makna dalam Al-Qur’an. Kajian majaz mursal melalui pendekatan ilmu balaghah dapat membantu mengungkap hubungan makna antara lafaz dan konteks penggunaannya sehingga pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dapat dilakukan secara lebih tepat dan kontekstual.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Fuadi et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: