Klasifikasi emosi pada tweet berbahasa Indonesia sulit dilakukan karena teks media sosial sering memakai bahasa tidak baku. Penelitian ini membandingkan Support Vector Machine dan K-Nearest Neighbor melalui delapan konfigurasi yang mengombinasikan term frequency-inverse document frequency atau bigram, synthetic minority oversampling, dan penyetelan grid search. Eksperimen menggunakan 4.403 tweet berlabel manual dalam lima kelas emosi, dengan 90% data latih dan 10% data uji. Teks menjalani case folding, cleaning, dan normalisasi. Kinerja dievaluasi melalui validasi silang sepuluh lipatan dan confusion matrix. Support Vector Machine dengan term frequency-inverse document frequency, oversampling, dan penyetelan menghasilkan akurasi terbaik sebesar 76,04% dan F1-score 76,19%. K-Nearest Neighbor mencapai akurasi 54,08% dan F1-score 48,61%. Term frequency-inverse document frequency secara konsisten mengungguli bigram, sedangkan pengaruh oversampling berbeda menurut algoritma.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Nainggolan et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: