Representasi maskulinitas di media sosial semakin relevan dikaji seiring meningkatnya kehadiran figur publik pria yang menampilkan ekspresi gender non-konvensional di Instagram. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi Soft Masculinity pada gaya berpakaian Jovi Adhiguna di Instagram melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan analisis tiga tataran: denotasi, konotasi, dan mitos. Data bersumber dari sepuluh unggahan foto statis yang dipilih secara purposif dari akun @joviadhiguna pada periode Januari–Juni 2026. Pada tataran denotasi, ditemukan lima elemen visual berulang: garmen bersiluet ambigu gender seperti rok, dress, dan tunik panjang; aksesori feminin bervolume besar seperti kalung mutiara berlapis, heels, dan anting bergelantung; rambut panjang melebihi bahu; postur dan ekspresi wajah terbuka dan non-kaku; serta caption yang menegosiasikan norma berpakaian berbasis gender. Pada tataran konotasi, elemenelemen tersebut mengkomunikasikan kebebasan estetis, kepercayaan diri nonkonvensional, keterbukaan emosional, dan hibriditas identitas. Pada tataran mitos, teridentifikasi tiga mitos maskulinitas baru: maskulinitas estetis sebagai identitas yang sahih, fashion tanpa gender sebagai penanda modernitas, dan kepercayaan diri tanpa pembelaan sebagai puncak Soft Masculinity. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gaya berpakaian Jovi Adhiguna merupakan sistem tanda yang aktif menegosiasikan dan menormalisasi ekspresi gender melampaui batas maskulinitas hegemonik dalam wacana digital Indonesia. Kata Kunci: Soft Masculinity; gaya berpakaian; Instagram; semiotika Roland Barthes; representasi.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Wibisono et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: