Penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif seperti ChatGPT semakin meluas dalam penulisan karya ilmiah mahasiswa dan menghadirkan tantangan baru bagi etika akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk tantangan etika yang muncul ketika AI digunakan dalam penulisan karya ilmiah mahasiswa, faktor yang melatarbelakanginya, serta upaya penguatan etika akademik. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik studi literatur terhadap 15 artikel relevan yang terbit pada tahun 2023 sampai 2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa tantangan utama meliputi risiko plagiarisme dan ketidakjujuran akademik, keengganan mengungkapkan penggunaan AI, penyalinan hasil AI tanpa evaluasi kritis, ketergantungan yang melemahkan kemandirian menulis, serta kaburnya batas kepengarangan. Tantangan tersebut dipengaruhi oleh belum adanya pedoman penggunaan AI yang jelas, terbatasnya literasi etika dan literasi informasi, serta tekanan akademik. Etika akademik dapat diperkuat melalui pedoman institusi yang jelas, edukasi dan pelatihan etika penggunaan AI, keteladanan dosen, dan pembiasaan transparansi dalam penggunaan AI. Oleh karena itu, mahasiswa perlu dibekali kesadaran etis agar AI tetap menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir dan menulis mereka sendiri.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Hasibuan et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: