Mastery of basic arithmetic operations is fundamental to teachers’ numeracy competence and their ability to deliver quality mathematics instruction. This study aimed to analyze changes in teachers’ arithmetic competence following training in the GASING method (Gampang, Asyik, and Menyenangkan), identify gains across individual components, and compare improvements across training classes and educational levels. A quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest–posttest design was implemented across four training classes. Participants comprised 216 primary and junior secondary school teachers in Humbang Hasundutan Regency, North Sumatra, Indonesia. Competence was assessed on a 0–100 scale across five components: Bakalkubagi, addition, multiplication, subtraction, and division. Data analysis included the Wilcoxon signed-rank test, paired t-test, effect sizes, normalized gain (N-Gain), and comparisons across classes and educational levels. The results showed that the mean total score increased from 44.13 to 93.17, representing a gain of 49.04 points (p < .001) and a mean N-Gain of 0.88, classified as high. The largest gains occurred in division, multiplication, and Bakalkubagi. Improvements did not differ significantly across training classes or educational levels. These findings indicate consistent score improvements following training but do not establish a causal effect because no control group was included. ABSTRAK Penguasaan operasi hitung dasar merupakan fondasi kompetensi numerasi yang perlu dimiliki guru untuk mendukung pembelajaran matematika yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan menganalisis peningkatan kompetensi operasi hitung guru setelah mengikuti pelatihan metode GASING (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan), mengidentifikasi peningkatan pada setiap komponen, serta membandingkan hasil antarkelas dan antarjenjang pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one-group pretest–posttest yang diterapkan pada empat kelas pelatihan. Subjek penelitian berjumlah 216 guru SD/MI dan SMP di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Kompetensi diukur melalui lima komponen, yaitu Bakalkubagi, penjumlahan, perkalian, pengurangan, dan pembagian, menggunakan skala 0–100. Analisis data meliputi uji Wilcoxon, paired t-test, ukuran efek, N-Gain, serta perbandingan antarkelas dan antarjenjang. Hasil menunjukkan bahwa rerata skor total meningkat dari 44,13 menjadi 93,17, dengan selisih 49,04 poin (p < 0,001) dan N-Gain 0,88 dalam kategori tinggi. Peningkatan terbesar terjadi pada pembagian, perkalian, dan Bakalkubagi. Peningkatan tidak berbeda signifikan antarkelas maupun antarjenjang. Temuan ini menunjukkan peningkatan kompetensi yang konsisten setelah pelatihan, tetapi belum membuktikan hubungan kausal karena tidak menggunakan kelompok kontrol.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Sihite et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: