Pendidikan Islam pada masa Khulafaurrasyidin merupakan bagian penting dalam perkembangan pendidikan Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan pendidikan Islam pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, serta menganalisis relevansinya terhadap pendidikan modern. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan menelaah sumber-sumber sejarah Islam dan artikel jurnal Indonesia yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan Islam pada masa Khulafaurrasyidin berfokus pada pengajaran Al-Qur’an, penyampaian hadis, pemahaman ajaran agama, pembinaan akhlak, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Pada masa Abu Bakar, perhatian terhadap pemeliharaan Al-Qur’an menjadi langkah penting dalam menjaga sumber ajaran Islam. Pada masa Umar bin Khattab, pendidikan berkembang melalui pengajaran agama dan pengiriman guru ke berbagai wilayah. Pada masa Utsman bin Affan, standardisasi mushaf Al-Qur’an dilakukan untuk menjaga kesatuan rujukan tertulis. Sementara itu, pada masa Ali bin Abi Thalib, kegiatan pendidikan berlangsung di tengah konflik politik yang memengaruhi stabilitas pemerintahan. Nilai-nilai pendidikan pada periode tersebut tetap relevan bagi pendidikan modern, terutama dalam penguatan pendidikan akhlak, keteladanan guru, pengajaran Al-Qur’an, serta penerapan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan. Dengan demikian, pendidikan Islam pada masa Khulafaurrasyidin memberikan landasan historis dan nilai-nilai mendasar bagi pengembangan pendidikan modern yang mengintegrasikan pengetahuan, keimanan, dan pembentukan karakter.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Khoerunnida et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: