Palm oil solid waste has potential as a raw material for briquettes because of its relatively high carbon content, but briquette quality strongly depends on the binder and production conditions. Previous studies report varied binder performance that has not been compared systematically. This article compares the reported performance of various natural binders for palm oil solid-waste briquettes based on calorific value, moisture content, and ash content. A literature review was conducted on eight Indonesian scientific articles published between 2012 and 2023, covering nine natural binders: cassava starch (kanji), sugarcane juice, waste rice, rubber, bilimbi (belimbing wuluh), cassava flour, tapioca flour, rice flour, and molasses. The data were analyzed descriptively and comparatively against SNI 01-6235-2000. All binders produced calorific values of 5379.53–7209.94 cal/g, above the SNI minimum of 5000 cal/g. Rubber gave the highest reported calorific value (7209.94 cal/g), followed by tapioca flour and rice flour in one study (6930.11 and 6922.22 cal/g). The lowest reported moisture content was obtained using tapioca flour (2.35%), and the lowest ash content was obtained using bilimbi (2.01%). Waste rice failed the SNI limits for both moisture (11.49%) and ash (9.45%), while the ash content of tapioca flour in a palm shell–bagasse mixture (8.43%) slightly exceeded the 8% limit. Differences in raw materials, binder formulation, and production conditions limit direct comparison among studies. Overall, rubber, tapioca flour, rice flour, and bilimbi showed the most promising results among the studies reviewed, rather than constituting a definitive ranking of binder effectiveness. ABSTRAK Limbah padat kelapa sawit berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku briket karena masih mengandung karbon yang cukup tinggi, tetapi mutu briket dipengaruhi oleh jenis perekat dan kondisi pembuatannya. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan kinerja perekat yang beragam dan belum dibandingkan secara sistematis. Artikel ini bertujuan membandingkan kinerja berbagai perekat alami yang dilaporkan pada briket limbah padat kelapa sawit berdasarkan nilai kalor, kadar air, dan kadar abu. Metode yang digunakan adalah studi literatur terhadap delapan artikel ilmiah nasional yang terbit pada tahun 2012–2023 dengan sembilan jenis perekat alami, yaitu kanji, air tebu, limbah nasi, karet, belimbing wuluh, tepung singkong, tepung tapioka, tepung beras, dan molase. Data dianalisis secara deskriptif dan komparatif terhadap SNI 01-6235-2000. Seluruh perekat menghasilkan nilai kalor 5379,53–7209,94 kal/g, di atas batas minimum SNI sebesar 5000 kal/g. Perekat karet memiliki nilai kalor tertinggi yang dilaporkan (7209,94 kal/g), diikuti tepung tapioka dan tepung beras pada salah satu studi (6930,11 dan 6922,22 kal/g). Kadar air terendah yang dilaporkan diperoleh pada tepung tapioka (2,35%) dan kadar abu terendah pada belimbing wuluh (2,01%). Perekat limbah nasi tidak memenuhi batas SNI untuk kadar air (11,49%) maupun kadar abu (9,45%), sedangkan kadar abu tepung tapioka pada campuran cangkang sawit–ampas tebu (8,43%) sedikit melampaui batas 8%. Perbedaan bahan baku, formulasi perekat, dan kondisi pembuatan membatasi perbandingan langsung antarstudi. Secara umum, karet, tepung tapioka, tepung beras, dan belimbing wuluh menunjukkan hasil yang paling menjanjikan di antara studi yang ditinjau, tanpa dimaksudkan sebagai peringkat efektivitas yang bersifat universal.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Sari et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: