Interaksi virtual di platform daring telah membuka ruang baru bagi komunikasi antarbudaya, termasuk bagi penutur asing yang menggunakan Bahasa Indonesia. Namun, strategi komunikasi yang mereka gunakan untuk mengelola perbedaan budaya dan linguistik dalam interaksi digital masih minim diteliti. Penelitian ini menganalisis strategi komunikasi antarbudaya yang digunakan oleh penutur asing dalam interaksi virtual berbahasa Indonesia di platform daring. Metode yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan pendekatan analisis interaksi dan wawancara mendalam terhadap penutur asing yang aktif memproduksi konten atau berinteraksi dalam Bahasa Indonesia di platform seperti TikTok, YouTube, dan media sosial lainnya. Data dianalisis menggunakan kerangka Communication Accommodation Theory (CAT) untuk mengidentifikasi strategi konvergensi dan divergensi, serta dimensi kompetensi komunikasi antarbudaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penutur asing cenderung menggunakan strategi konvergensi melalui penyesuaian leksikal, penggunaan bahasa informal, dan pemanfaatan elemen humor lokal untuk membangun kedekatan dengan audiens Indonesia . Selain itu, kesadaran pragmatik yang tinggi terlihat dari kemampuan mereka memilih tindak tutur yang sesuai untuk menjaga hubungan interpersonal dan keterlibatan audiens . Tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan kosakata dan kesalahan sintaksis, yang dikelola melalui strategi kompensasi seperti code-switching dan penggunaan konteks visual . Temuan ini mengimplikasikan bahwa komunikasi antarbudaya di ruang digital tidak hanya bergantung pada penguasaan linguistik, tetapi juga pada kemampuan menegosiasikan identitas dan membangun afiliasi melalui sumber daya multimodal.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Sartika et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: