Stunting remains a significant public health problem in Indonesia and continues to exhibit substantial regional disparities. This geographical variation suggests that stunting prevalence is influenced not only by individual and household-level factors but also by broader socio-economic characteristics and regional conditions. This study aims to analyze the spatial interdependence dynamics of child stunting prevalence across districts and municipalities in Indonesia using a spatial econometric approach. This research employs an explanatory design, with all districts and municipalities in Indonesia as the units of analysis. The data are derived from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) and official publications on socio-economic and food security indicators. The analysis begins with testing for spatial autocorrelation to identify geographic clustering patterns, followed by the estimation of a Spatial Autoregressive (SAR) Model to examine the effects of explanatory variables while accounting for interregional spillover effects. The findings indicate significant spatial dependence in stunting prevalence, implying that the condition of one region is associated with that of neighboring regions. Food security and regional economic capacity play important roles in reducing stunting prevalence, while poverty and human development exhibit relationships consistent with theoretical expectations. This study concludes that stunting is a regionally interconnected phenomenon. Therefore, strategies to accelerate stunting reduction should adopt a cluster-based convergence approach to ensure more effective and better-targeted policy interventions. Keywords: Food Security, Human Development, Poverty, Spatial Autoregressive Model, Stunting. ABSTRAK Stunting merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang masih menunjukkan disparitas antarwilayah di Indonesia. Variasi geografis tersebut mengindikasikan bahwa prevalensi stunting tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu dan rumah tangga, tetapi juga oleh karakteristik sosial-ekonomi dan kondisi kewilayahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika keterkaitan spasial prevalensi stunting balita antar kabupaten/kota di Indonesia dengan menggunakan pendekatan ekonometrika spasial. Penelitian ini merupakan studi eksplanatori dengan unit analisis seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Data yang digunakan bersumber dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dan publikasi resmi terkait indikator sosial-ekonomi dan ketahanan pangan. Analisis diawali dengan pengujian autokorelasi spasial untuk mengidentifikasi pola pengelompokan geografis, kemudian dilanjutkan dengan estimasi Spatial Autoregressive Model (SAR) untuk menguji pengaruh faktor-faktor penjelas dengan mempertimbangkan efek spillover antarwilayah. Hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan spasial yang signifikan pada prevalensi stunting, yang berarti kondisi suatu wilayah berkorelasi dengan wilayah sekitarnya. Ketahanan pangan dan kapasitas ekonomi wilayah terbukti berperan penting dalam menurunkan prevalensi stunting, sementara kemiskinan dan pembangunan manusia menunjukkan arah hubungan yang konsisten dengan teori. Penelitian ini menyimpulkan bahwa stunting merupakan fenomena yang bersifat regional dan saling terhubung antarwilayah. Oleh karena itu, strategi percepatan penurunan stunting perlu menerapkan pendekatan konvergensi berbasis klaster wilayah agar intervensi kebijakan lebih efektif dan tepat sasaran. Kata Kunci: Kemiskinan, Ketahanan Pangan, Pembangunan Manusia, Spatial Autoregressive Model, Stunting.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Keb et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: