Answers are grounded in this paper and cite their sources.
Corn is the dominant commodity of Gorontalo Province, yet its cobs remain an underused residue. This study maps the potential of corncob biomass in the province using a scenario-based mass and energy balance. Provincial production was taken from Statistics Indonesia (BPS) for 2024 and 2025 (625,972 and 653,290 t of shelled maize at 14% moisture) and from provincial administrative reports (1.2 million t) as an upper scenario. Dry cob mass was estimated with a cob-to-grain ratio (base 0.13) and an availability factor (base 0.60), allocated to regencies using 2021 harvested-area shares as a preliminary spatial proxy, and converted to energy using a lower heating value of 17.35 MJ kg-1. In the base scenario, theoretical cob potential is about 84,900 t per year and available potential about 51,000 t (range 26,000-84,000 t), equal to roughly 884 TJ or 49 GWh of electricity at 20% efficiency. Boalemo, Pohuwato, Gorontalo and Gorontalo Utara account for about 97% of the proxy allocation, which is intended to prioritize field surveys rather than represent actual 2025 regency-level supply. Sensitivity analysis shows that the choice of production dataset dominates uncertainty, followed by availability and the cob ratio. A structured qualitative screening based on technology maturity and complexity, feedstock-conditioning requirements, scale and capital intensity, and local logistical fit identifies densification into pellets or briquettes as the most practical initial pathway, while bioethanol and chemicals remain longer-term options. The findings are desk-based estimates and require field validation of production, availability and fuel properties before investment decisions. ABSTRAK Jagung merupakan komoditas utama Provinsi Gorontalo, tetapi tongkolnya masih menjadi residu yang belum termanfaatkan dengan baik. Penelitian ini memetakan potensi biomassa tongkol jagung di provinsi tersebut melalui neraca massa dan energi berbasis skenario. Produksi provinsi diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk 2024 dan 2025 (625.972 dan 653.290 ton pipilan kadar air 14%) serta dari laporan administratif daerah (1,2 juta ton) sebagai skenario batas atas. Massa kering tongkol diperkirakan dengan rasio tongkol-pipilan (dasar 0,13) dan faktor ketersediaan (dasar 0,60), dialokasikan ke kabupaten/kota menggunakan pangsa luas panen 2021 sebagai proxy spasial awal, lalu dikonversi menjadi energi dengan nilai kalor bawah 17,35 MJ kg-1. Pada skenario dasar, potensi teoretis tongkol sekitar 84.900 ton per tahun dan potensi tersedia sekitar 51.000 ton (rentang 26.000-84.000 ton), setara sekitar 884 TJ atau 49 GWh listrik pada efisiensi 20%. Boalemo, Pohuwato, Gorontalo, dan Gorontalo Utara menyumbang sekitar 97% pada alokasi proxy; angka ini digunakan untuk menentukan prioritas survei lapangan, bukan sebagai gambaran pasokan aktual 2025 per wilayah. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa pilihan sumber data produksi paling menentukan ketidakpastian, disusul faktor ketersediaan dan rasio tongkol. Penyaringan kualitatif terstruktur berdasarkan kematangan dan kompleksitas teknologi, kebutuhan pengondisian bahan baku, kesesuaian skala dan intensitas modal, serta kecocokan logistik lokal menempatkan pemadatan menjadi pelet atau briket sebagai pintu masuk awal yang paling praktis, sedangkan bioetanol dan bahan kimia lebih cocok untuk jangka panjang. Temuan ini berupa taksiran berbasis data sekunder dan memerlukan validasi lapangan atas produksi, ketersediaan, dan sifat bahan bakar sebelum keputusan investasi diambil.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Djamalu_aut et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: