Answers are grounded in this paper and cite their sources.
The wetland areas of Hulu Sungai Utara Regency are predominantly composed of backswamp and floodplain ecosystems that function under natural drainage without mechanical control structures. Uncontrolled drainage management risks depressing the shallow groundwater table below the pyritic layer (〖"FeS" 〗_2), which accelerates pyrite oxidation and triggers severe land degradation. This study aims to evaluate the interrelationships among groundwater table depth, pyritic layer depth, redox potential (E_h), soil acidity (pH), and electrical conductivity (EC) to formulate open-channel water management in North Amuntai and South Amuntai Districts. Field surveys and laboratory assessments were performed across 12 representative sampling points using the Hydrological Assessment Framework for Swamp Irrigation Management (HAFSIM). The findings reveal that the pyritic horizon is situated at depths of 40–100 cm, groundwater table depths fluctuate between 15–55 cm, soil E_h values range from +110 to +340 mV, pH levels vary from 4.5 to 5.8, and EC values remain within 0.08–0.18 mS/cm, confirming a non-saline freshwater regime. Weighted evaluations produced a composite score of 0.78 categorized as Undamaged, supporting civil-engineering recommendations to restrict drainage excavation depths above the pyrite layer and construct passive check structures (tabat) to sustain water levels during dry transitions. ABSTRAK Kawasan lahan rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara didominasi oleh ekosistem rawa lebak dan dataran banjir (floodplain) yang mengandalkan sistem drainase alami tanpa pintu air pengatur mekanis. Pengelolaan tata air yang tidak berbasis pada data hidro-kimia berisiko menurunkan muka air tanah (MAT) dangkal di bawah elevasi lapisan pirit (〖"FeS" 〗_2), sehingga memicu terjadinya oksidasi pirit dan degradasi produktivitas lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan kedalaman MAT, lapisan pirit, potensial redoks (E_h), derajat keasaman (pH), dan daya hantar listrik (DHL) sebagai dasar penataan sistem tata air saluran terbuka di Kecamatan Amuntai Utara dan Amuntai Selatan. Pengujian dilakukan melalui survei lapangan dan analisis laboratorium pada 12 titik sampel representatif dengan menerapkan kerangka kerja Hydrological Assessment Framework for Swamp Irrigation Management (HAFSIM). Hasil penelitian menunjukkan lapisan pirit berada pada kedalaman 40–100 cm dengan posisi MAT berkisar antara 15–55 cm dari permukaan tanah, nilai E_h berkisar antara +110 mV hingga +340 mV, pH berkisar antara 4,5 hingga 5,8, serta nilai DHL sebesar 0,08–0,18 mS/cm yang mencerminkan tipologi air tawar non-salin. Evaluasi pembobotan menghasilkan skor komposit 0,78 dengan status lahan tergolong Tidak Rusak, sehingga rekomendasi rekayasa tata air difokuskan pada pembatasan kedalaman galian saluran agar tidak memotong pirit serta pemasangan sekat retensi pasif (tabat) pada akhir musim hujan.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Arifin et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: