Early Childhood Education (ECE) plays a crucial role in shaping children’s development during the golden age of 0–6 years. This study explores how multiple intelligences-based learning is implemented through play activities at TK Siwi Utomo Maron. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through field observations, interviews with teachers and the principal, and documentation. The findings reveal that learning through play stimulates various aspects of multiple intelligences—linguistic, logical-mathematical, spatial, musical, kinesthetic, interpersonal, intrapersonal, and naturalistic—by integrating educational play tools (APE), storytelling, music, and art activities. Teachers’ active role in scaffolding and providing individualized stimulation allows children to develop according to their unique strengths and interests. The implementation of multiple intelligences through play creates a joyful, meaningful, and student-centered learning experience, enhancing children’s cognitive, social, and emotional growth. This study confirms that the multiple intelligences approach effectively supports holistic development in early childhood education. Abstrak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran penting dalam membentuk perkembangan anak pada masa keemasan usia 0–6 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk (multiple intelligences) melalui kegiatan bermain di TK Siwi Utomo Maron. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan bermain mampu menstimulasi berbagai aspek kecerdasan majemuk—linguistik, logis-matematis, spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis—melalui integrasi alat permainan edukatif (APE), kegiatan bercerita, musik, dan seni. Peran aktif guru dalam memberikan scaffolding dan stimulasi individual memungkinkan anak mengembangkan potensi sesuai dengan kekuatan dan minatnya masing-masing. Penerapan pembelajaran berbasis multiple intelligences melalui kegiatan bermain terbukti menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, bermakna, dan berpusat pada anak, serta mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak secara holistik.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Reni Andriyani (2025) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: