This is the authors' abstract. We don't add key points for this paper.
Access to the Qur’an for Deaf Muslims still faces various barriers, particularly regarding the availability of accessible media, human resources, and a learning environment suited to the communication needs of the Deaf community. These conditions indicate that the general availability of the Qur’an does not always guarantee equal access for all Muslims. This study aims to analyze the forms of Islamic philanthropy’s involvement in ensuring access to the Qur’an for Deaf Muslims and to understand its contribution to religious inclusion. This study employs a qualitative method using a library research approach. Data were obtained from documents of philanthropic institutions, publications by the Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, regulations related to people with disabilities, as well as academic literature on Islamic philanthropy, disability, accessibility, and religious inclusion. The analysis was conducted using descriptive-analytical and thematic methods by identifying the relationships between access, resources, capacity, participation, and inclusion. The research findings indicate that Islamic philanthropy plays a role in supporting access to the Qur’an through the provision and distribution of the Sign Language Qur’an, teacher training, the development of learning materials, as well as community empowerment and institutional collaboration. These practices can be understood as support for religious inclusion because they seek to open access, build capacity, and expand opportunities for Deaf Muslims to participate in religious life. Thus, Islamic philanthropy functions not only as a mechanism for distributing aid but also as an instrument that supports the fulfillment of rights and more equitable religious access for Deaf Muslims. Keywords: Islamic philanthropy; Deaf Muslims; Access to the Qur’an; Religious Inclusion; Sign Language Qur’an. Abstrak: Akses terhadap Al-Qur’an bagi Muslim Tuli masih menghadapi berbagai hambatan, terutama berkaitan dengan ketersediaan media yang aksesibel, sumber daya manusia, dan lingkungan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi komunitas Tuli. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan Al-Qur’an secara umum belum selalu menjamin akses yang setara bagi seluruh Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk keterlibatan filantropi Islam dalam pemenuhan akses Al-Qur’an bagi Muslim Tuli serta memahami kontribusinya terhadap inklusi keagamaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari dokumen lembaga filantropi, publikasi Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, regulasi terkait penyandang disabilitas, serta literatur akademik mengenai filantropi Islam, disabilitas, aksesibilitas, dan inklusi keagamaan. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dan tematik dengan mengidentifikasi hubungan antara akses, sumber daya, kapasitas, partisipasi, dan inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filantropi Islam berperan dalam mendukung pemenuhan akses Al-Qur’an melalui penyediaan dan distribusi Mushaf Isyarat, pelatihan pengajar, pengembangan pembelajaran, serta penguatan komunitas dan kolaborasi kelembagaan. Praktik tersebut dapat dipahami sebagai dukungan terhadap inklusi keagamaan karena berupaya membuka akses, membangun kapasitas, dan memperluas kesempatan Muslim Tuli untuk berpartisipasi dalam kehidupan keagamaan. Dengan demikian, filantropi Islam tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme distribusi bantuan, tetapi juga sebagai salah satu instrumen pendukung pemenuhan hak dan akses keagamaan yang lebih setara bagi Muslim Tuli. Kata Kunci: Filantropi Islam; Muslim Tuli; Akses Al-Qur’an; Inklusi Keagamaan; Mushaf Isyarat.
Answers are grounded in this paper and cite their sources.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Fathimatun Nada (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: