Pengelolaan organisme pengganggu tanaman (OPT) pada budidaya padi masih menghadapi berbagai kendala, terutama karena sebagian besar petani masih mengandalkan pengamatan konvensional yang berpotensi menyebabkan keterlambatan dalam mendeteksi serangan hama dan penyakit. Kondisi tersebut juga ditemukan pada Komunitas Petani Milenial Wija Paggalung di Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengimplementasikan teknologi DiGiFarming sebagai media monitoring kondisi lingkungan berbasis sensor serta meningkatkan kapasitas petani dalam memanfaatkan teknologi digital untuk pengelolaan hama dan penyakit padi. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pendekatan partisipatif yang meliputi koordinasi dan identifikasi kebutuhan mitra, sosialisasi dan demonstrasi teknologi, implementasi perangkat DiGiFarming, pendampingan penggunaan sistem, serta evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa teknologi DiGiFarming berhasil diimplementasikan pada lahan mitra dan mampu menyediakan informasi kondisi lingkungan secara real-time melalui dashboard monitoring digital. Kegiatan sosialisasi, demonstrasi, dan pendampingan mendapatkan respons positif dari peserta serta meningkatkan pemahaman petani mengenai konsep pertanian presisi, fungsi sensor lingkungan, dan pemanfaatan data digital dalam mendukung pengambilan keputusan budidaya. Selain itu, peserta menunjukkan peningkatan literasi digital dan ketertarikan terhadap penerapan teknologi pertanian berbasis Internet of Things (IoT). Implementasi DiGiFarming berpotensi menjadi salah satu strategi dalam mendukung transformasi pertanian menuju sistem budidaya yang lebih modern, adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Kata kunci: DiGiFarming, Internet of Things (IoT), Organisme pengganggu tanaman, Pertanian presisi. ABSTRACT The management of plant pests and diseases in rice cultivation still faces various challenges, primarily because most farmers still rely on conventional observation methods, which can lead to delays in detecting pest and disease outbreaks. This situation is also evident among the Wija Paggalung Millennial Farmers’ Community in Baranti Subdistrict, Sidenreng Rappang Regency. This community service initiative aims to implement DiGiFarming technology as a sensor-based tool for monitoring environmental conditions and to enhance farmers’ capacity in utilizing digital technology for rice pest and disease management. The implementation method employed a participatory approach, which included coordinating with and identifying partners’ needs, conducting technology outreach and demonstrations, deploying DiGiFarming devices, providing guidance on system usage, and evaluating the activities. The results of the project show that DiGiFarming technology was successfully implemented on partner farms and is capable of providing real-time environmental data through a digital monitoring dashboard. Outreach activities, demonstrations, and mentoring received positive feedback from participants and enhanced farmers’ understanding of precision agriculture concepts, the functions of environmental sensors, and the use of digital data to support crop management decisions. In addition, participants demonstrated improved digital literacy and interest in the application of Internet of Things (IoT)-based agricultural technology. The implementation of DiGiFarming has the potential to become a key strategy in supporting agricultural transformation toward a more modern, adaptive, efficient, and sustainable farming system.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Junaid et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: