Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) diwujudkan di tingkat daerah antara lain melalui Program Surabaya Mengajar (PSM), yaitu skema asistensi mengajar yang menempatkan mahasiswa di sekolah dasar negeri milik Pemerintah Kota Surabaya. Keberhasilan skema ini tidak hanya ditentukan oleh rumusan tujuannya, tetapi juga oleh proses implementasi di sekolah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi kebijakan MBKM melalui PSM di SDN Kebraon II/437 Kota Surabaya serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya berdasarkan enam variabel model Van Meter dan Van Horn. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan data dari observasi, wawancara semi-terstruktur terhadap sembilan informan (satu wakil kepala sekolah bidang kurikulum, empat guru, dan empat mahasiswa peserta), serta dokumentasi. Analisis mengikuti model interaktif Miles dan Huberman dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan program dipahami secara umum, tetapi penempatan mahasiswa belum selaras dengan kebutuhan sekolah. Sumber daya dan pendampingan guru memadai untuk kegiatan dasar, namun kapasitas pedagogis mahasiswa non kependidikan terbatas. Komunikasi di tingkat sekolah berjalan intens, sedangkan komunikasi dan pemantauan dari pihak penyelenggara masih umum dan jarang. Lingkungan sosial sekolah bersifat ramah dan disposisi mahasiswa cenderung positif. Kualitas implementasi dengan demikian bertumpu pada mekanisme adaptasi informal di sekolah, sehingga diperlukan penempatan berbasis kebutuhan, petunjuk teknis yang lebih rinci, dan pemantauan lapangan yang terstruktur.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Seftianah et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: