Kegiatan pengabdian ini dirancang untuk mengatasi rendahnya rasa percaya diri anak-anak migran Indonesia berusia 7–14 tahun di Sanggar Bimbingan Kuala Lumpur, Malaysia, saat diminta untuk mempresentasikan karya seni mereka. Meskipun mereka memiliki kreativitas yang baik, anak-anak mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri secara verbal yang berpengaruh pada perkembangan identitas mereka. Solusi yang diterapkan adalah memaksimalkan kreativitas melalui media clay komersial (plastisin/play-doh) dan manik-manik yang memberikan kesempatan untuk berekspresi tanpa tekanan. Pendekatan ini mengintegrasikan penguatan identitas diri dengan peningkatan keberanian berbicara melalui pendampingan presentasi karya serta pengenalan lagu "Aku Anak Indonesia". Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan 40 anak melalui beberapa tahapan: observasi awal, kreasi clay dan manik-manik, presentasi karya dengan pertanyaan terbuka, pengenalan lagu "Aku Anak Indonesia", dan evaluasi reflektif. Hasil menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan: anak-anak yang sebelumnya saling mendorong dan menunduk mulai berani menatap audiens, suara mereka menjadi lebih jelas, kemampuan menjelaskan karya berkembang dari satu-dua kata menjadi keseluruhan kalimat, dan rasa bangga terhadap karya serta identitas diri mulai muncul. Temuan kualitatif menunjukkan bahwa penggunaan media proyektif dan dukungan sosial sangat penting dalam meningkatkan keberanian untuk berekspresi. Kegiatan ini berkontribusi pada pengembangan model intervensi berbasis terapi seni untuk anak migran dan memberikan rekomendasi praktis bagi pengelola sanggar bimbingan.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Rochmah et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: