The increasing participation of women in the workforce has been accompanied by growing professional and personal demands that may affect the psychological well-being of career women. The World Health Organization (WHO) reports that approximately 15% of the working-age population experiences mental health problems, while work-related pressures contribute to approximately 12 billion lost working days annually. These conditions highlight the importance of resilience as a psychological resource that enables career women to adapt, recover, and function effectively when facing workplace challenges. This study aimed to examine the predictive relationships of self-esteem and emotion regulation with resilience among career women. A quantitative cross-sectional survey design was employed involving 200 career women in Semarang City, Indonesia, selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires measuring self-esteem, emotion regulation, and resilience on a five-point Likert scale. The data were analyzed using Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) with SmartPLS 4 through the evaluation of the measurement model, structural model, and hypothesis testing using a bootstrapping procedure. The findings showed that self-esteem and emotion regulation were positive predictors of resilience among career women. Self-esteem demonstrated a relatively stronger contribution than emotion regulation, while the overall model explained part of the variance in resilience. These findings indicate that career women with more positive self-esteem and better emotion regulation tend to demonstrate greater resilience. The study highlights the importance of self-esteem and emotion regulation as psychological resources that may be considered in organizational programs aimed at supporting women's resilience, psychological well-being, and sustainable career development. ABSTRAK Meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja diikuti dengan semakin kompleksnya tuntutan profesional dan kehidupan personal yang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis wanita karier. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar 15% penduduk usia produktif mengalami gangguan mental, sementara tekanan kerja menyebabkan hilangnya sekitar 12 miliar hari kerja setiap tahun. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya resiliensi agar wanita karier mampu bertahan, beradaptasi, dan bangkit dari berbagai tekanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan prediktif self-esteem dan regulasi emosi dengan resiliensi pada wanita karier. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional melalui metode survei terhadap 200 wanita karier di Kota Semarang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur self-esteem, regulasi emosi, dan resiliensi dengan skala Likert lima tingkat. Data dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan SmartPLS 4 melalui evaluasi model pengukuran, model struktural, dan pengujian hipotesis menggunakan prosedur bootstrapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-esteem dan regulasi emosi merupakan prediktor positif terhadap resiliensi pada wanita karier. Self-esteem menunjukkan kontribusi yang relatif lebih kuat dibandingkan regulasi emosi, sedangkan model penelitian secara keseluruhan mampu menjelaskan sebagian variasi resiliensi. Temuan ini menunjukkan bahwa wanita karier dengan penghargaan diri yang lebih positif dan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik cenderung memiliki resiliensi yang lebih tinggi. Penelitian ini menegaskan pentingnya self-esteem dan regulasi emosi sebagai sumber daya psikologis yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan program organisasi untuk mendukung resiliensi, kesejahteraan psikologis, dan keberlanjutan karier perempuan.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Listyorini et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: