The transition to marine renewable energy involves not only electricity generation potential but also spatial demands and coastal ecosystem protection. Energy infrastructure, including turbine foundations, submarine cables, cable landfalls, and supporting activities, may exert environmental pressures on interconnected mangrove, seagrass, and coral reef ecosystems. This study examines the integration of coastal ecological functions into marine renewable energy spatial planning and proposes a decision-making framework for future empirical evaluation. A structured literature review was conducted using 90 unique Scopus records retrieved through three search groups. Title and abstract screening identified 26 core studies, 43 supporting studies, and 21 excluded records. The thematic synthesis indicates that existing research predominantly addresses spatial-use conflicts, ecosystem modeling, and cumulative environmental impacts, while direct evidence linking tropical coastal habitat connectivity with renewable energy infrastructure siting remains limited within the reviewed corpus. Based on these findings, a six-stage planning framework is proposed, incorporating minimum indicators for planning objectives and spatial boundaries, habitat distribution and condition, sensitive areas and infrastructure corridors, ecological exposure characteristics, alternative site comparison and cumulative impacts, and environmental changes for adaptive monitoring. The framework provides a conceptual approach to incorporating ecological considerations into renewable energy spatial decisions. However, its operational effectiveness requires further empirical testing and validation using site-specific spatial datasets and ecological conditions. ABSTRAK Transisi energi terbarukan di kawasan laut tidak hanya berkaitan dengan potensi pembangkitan listrik, tetapi juga dengan kebutuhan ruang dan perlindungan ekosistem pesisir. Infrastruktur energi, seperti fondasi turbin, jalur kabel bawah laut, fasilitas pendaratan kabel, dan aktivitas pendukung, berpotensi menimbulkan tekanan terhadap ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang saling terhubung. Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi fungsi ekologis pesisir dalam perencanaan spasial energi terbarukan laut serta merumuskan kerangka keputusan yang dapat diuji pada penelitian berikutnya. Kajian dilakukan melalui tinjauan literatur terstruktur terhadap 90 artikel unik dari Scopus yang diperoleh melalui tiga kelompok pencarian. Hasil penyaringan judul dan abstrak mengidentifikasi 26 artikel inti, 43 artikel pendukung, dan 21 artikel yang dikeluarkan. Sintesis tematik menunjukkan bahwa penelitian terdahulu lebih banyak membahas konflik pemanfaatan ruang, pemodelan ekosistem, dan dampak kumulatif, sedangkan keterkaitan langsung antara konektivitas ekosistem pesisir tropis dan penentuan lokasi infrastruktur energi masih terbatas dalam basis data yang dianalisis. Berdasarkan temuan tersebut, diusulkan kerangka perencanaan enam tahap dengan indikator minimum yang mencakup tujuan dan batas wilayah, sebaran serta kondisi habitat, kawasan sensitif dan koridor infrastruktur, karakteristik paparan ekologis, perbandingan alternatif lokasi dan dampak kumulatif, serta perubahan kondisi lingkungan untuk pemantauan adaptif. Kerangka ini menawarkan pendekatan konseptual untuk mengintegrasikan pertimbangan ekologis ke dalam keputusan spasial energi terbarukan. Namun, penerapannya masih memerlukan pengujian empiris dan validasi menggunakan data spasial serta kondisi ekologis setempat.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Hasan et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: