Mental health is an important concern in contemporary society, including among Muslim communities in Indonesia. The Qur’an offers a perspective on inner tranquility that extends beyond psychological conditions to encompass spiritual and moral dimensions. This study aims to analyze the concept of inner tranquility in the Qur’an, examine its formation through the Sunni Sufi perspective of Imam al-Ghazali, and engage it in conceptual dialogue with Carol D. Ryff’s theory of Psychological Well-Being in the context of mental health development in Indonesia. This qualitative study employs library research and the tafsir maudhu‘i (thematic interpretation) method. Data were analyzed through content analysis and comparative-conceptual analysis of the Qur’an, exegetical works, Imam al-Ghazali’s writings, and contemporary psychological literature. The findings indicate that the Qur’anic concepts of sakinah, ṭuma’nīnah, and al-nafs al-muṭma’innah converge with several dimensions of Psychological Well-Being, particularly self-acceptance, positive relationships, purpose in life, and personal growth. However, these concepts cannot be equated because they are grounded in different epistemological foundations and ultimate orientations. Al-Ghazali’s thought serves as a conceptual bridge through tazkiyat al-nafs, mujāhadah, muḥāsabah, ṣabr, tawakkul, riḍā, and qana‘ah. The novelty of this study lies in constructing a three-layer conceptual dialogue that positions the Qur’an as the normative foundation, al-Ghazali as a perspective on spiritual self-cultivation, and Ryff’s theory as an analytical framework for psychological functioning. This framework has the potential to enrich mental health perspectives by integrating spiritual, psychological, and social dimensions within the context of Indonesian Muslim society. [Kesehatan mental merupakan salah satu persoalan penting dalam kehidupan masyarakat kontemporer, termasuk masyarakat Muslim di Indonesia. Al-Qur’an memberikan perspektif tentang ketenangan jiwa yang tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan moral. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep ketenangan jiwa dalam Al-Qur’an, mengkaji pembentukannya melalui perspektif tasawuf Sunni Imam al-Ghazali, serta mendialogkannya dengan teori Psychological Well-Being Carol D. Ryff dalam konteks pengembangan kesehatan mental di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dan metode tafsir maudhu‘i. Data dianalisis melalui analisis isi dan analisis komparatif-konseptual terhadap Al-Qur’an, kitab tafsir, karya Imam al-Ghazali, dan literatur psikologi kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep sakinah, ṭuma’nīnah, dan al-nafs al-muṭma’innah memiliki titik temu dengan sejumlah dimensi Psychological Well-Being, terutama penerimaan diri, hubungan positif, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Namun, keduanya tidak dapat disamakan karena memiliki dasar epistemologis dan orientasi akhir yang berbeda. Pemikiran al-Ghazali menjadi jembatan konseptual melalui proses tazkiyat al-nafs, mujāhadah, muḥāsabah, ṣabr, tawakkul, riḍā, dan qana‘ah. Novelty penelitian terletak pada konstruksi dialog tiga lapis yang menempatkan Al-Qur’an sebagai landasan normatif, al-Ghazali sebagai perspektif pembinaan jiwa, dan teori Ryff sebagai kerangka analitis psikologis. Kerangka tersebut berpotensi memperkaya perspektif kesehatan mental yang mengintegrasikan dimensi spiritual, psikologis, dan sosial dalam konteks masyarakat Muslim Indonesia.]
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Karim et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: