Muslim communities today face serious psychological pressures shaped by digital life: cyberbullying, existential disorientation, and the steady erosion of self-worth through social rejection. Western resilience models—CBT, ACT, positive psychology—have genuine clinical value, but they were built on secular, positivistic assumptions that leave out something central to Muslim psychological health: the tawhidic relationship with God. This study develops a Qur'an-based mental resilience model by applying the tadabbur methodology of 'Abdurrahman Hasan Habannakah al-Maidaniy to Surah al-Kautsar. Working from al-Maidaniy's Qawa'id al-Tadabbur al-Amtsal and his tafsir Ma'arij al-Tafakkur, this library-based qualitative study traces four analytical stages: lexical-morphological reading, contextual application, extraction of resilience principles, and protocol formulation. The analysis shows that Surah al-Kautsar functions as a self-contained divine coping framework: abundance orientation (verse 1), ritual-social grounding (verse 2), and intimidation neutralisation through tawhidic acceptance (verse 3). These findings are placed in dialogue with CBT and positive psychology, showing that the Qur'anic model anchors resilience in divine validation rather than social approval. The study concludes with a practical tadabbur protocol for Islamic counselling settings. Abstrak Komunitas Muslim saat ini menghadapi tekanan psikologis yang serius akibat kehidupan digital: perundungan daring, disorientasi eksistensial, serta terkikisnya harga diri secara bertahap akibat penolakan sosial. Model ketahanan Barat—CBT, ACT, psikologi positif—memang memiliki nilai klinis yang nyata, tetapi model-model tersebut dibangun di atas asumsi sekuler dan positivistik yang mengabaikan sesuatu yang sangat penting bagi kesehatan psikologis umat Islam: hubungan tauhid dengan Allah. Penelitian ini mengembangkan model ketahanan mental berbasis Al-Qur'an dengan menerapkan metodologi tadabbur dari 'Abdurrahman Hasan Habannakah al-Maidaniy terhadap Surah al-Kautsar. Berawal dari karya al-Maidaniy berjudul Qawa’id al-Tadabbur al-Amtsal dan tafsirnya Ma’arij al-Tafakkur, penelitian kualitatif berbasis perpustakaan ini menelusuri empat tahap analitis: pembacaan leksikal-morfologis, penerapan kontekstual, ekstraksi prinsip-prinsip ketahanan, dan perumusan protokol. Analisis menunjukkan bahwa Surah al-Kautsar berfungsi sebagai kerangka kerja ilahi yang mandiri untuk mengatasi tantangan: orientasi pada kelimpahan (ayat 1), landasan ritual-sosial (ayat 2), dan netralisasi ancaman melalui penerimaan tauhid (ayat 3). Temuan ini dikaitkan dengan Terapi Perilaku Kognitif (CBT) dan psikologi positif, menunjukkan bahwa model Al-Qur’an menancapkan ketahanan pada validasi ilahi, bukan persetujuan sosial. Studi ini diakhiri dengan protokol tadabbur praktis untuk konteks konseling Islam.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Imron et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: