Answers are grounded in this paper and cite their sources.
Pendahuluan: Penggunaan torniket selama prosedur pembedahan terbukti efektif dalam membatasi kehilangan darah, namun dapat memicu cedera iskemia-reperfusi pada organ jauh. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh interval reperfusi selama iskemia tungkai bawah terhadap stres oksidatif ginjal, yang ditunjukkan melalui kadar malondialdehid (MDA), serta terhadap perubahan histopatologis pada jaringan ginjal. Metode: Sebanyak 24 ekor tikus jantan Wistar dibagi acak menjadi tiga kelompok: C (n=8) dengan torniket kontinu selama 3 jam tanpa reperfusi; R1 (n=8) dengan torniket 2 jam, reperfusi 10 menit, lalu torniket 1 jam; dan R2 (n=8) dengan torniket 2 jam, reperfusi 20 menit, lalu torniket 1 jam. Konsentrasi MDA ginjal diukur menggunakan metode thiobarbituric acid reactive substances (TBARS), sedangkan perubahan histopatologis dinilai melalui pewarnaan Hematoksilin–Eosin (HE). Analisis statistik menggunakan uji Kruskal–Wallis dengan uji post hoc Dunn. Hasil: Kedua kelompok interval reperfusi (R1 dan R2) menunjukkan kadar MDA ginjal yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan kelompok iskemia kontinu (masing-masing p=0,0026 dan p=0,0016). Sebaliknya, skor cedera glomerulus secara signifikan lebih tinggi pada kelompok R2 dibandingkan dengan kelompok C (p=0,003) dan kelompok R1 (p=0,04). Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada cedera tubulus antarkelompok (p=0,999). Kesimpulan: Interval reperfusi selama penggunaan torniket yang berkepanjangan dapat menurunkan stres oksidatif ginjal, namun tidak mencegah terjadinya kerusakan histopatologis.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Widanto et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: