Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya bagi pelajar. Survei pada tiga SPPG di wilayah Jember menunjukkan variasi menu yang berpotensi menimbulkan ketidakkonsistenan kualitas makanan apabila tidak didukung oleh pengendalian rantai pasok yang kuat. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan dan kepuasan anak, efektivitas program, pemborosan, serta kepercayaan publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja rantai pasok MBG dan mengidentifikasi faktor-faktor kritis yang memengaruhi ketidakkonsistenan kualitas makanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan kuesioner terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam operasional MBG. Pengukuran kinerja menggunakan model Supply Chain Operations Reference (SCOR), sedangkan metode Root Cause Analysis (RCA) digunakan untuk mengidentifikasi akar permasalahan. Hasil penelitian menunjukkan nilai kinerja Supply Chain Management (SCM) sebesar 87,10 dengan kategori “Good”. Namun, beberapa indikator bernilai di bawah 90 dan memerlukan perbaikan, meliputi Perfect Order Fulfillment, Planning Cycle Time, persentase bahan baku cacat, waktu pengiriman bahan baku, waktu produksi, dan waktu distribusi produk. Analisis RCA mengidentifikasi masalah kualitas bahan baku, perubahan kebijakan mendadak, ketidaktelitian pekerja, serta keterlambatan pengiriman. Pengendalian kualitas belum optimal karena sistemnya kurang terstruktur dan kurang terdokumentasi. Oleh karena itu, diperlukan standardisasi prosedur operasional, pengawasan bahan baku, peningkatan koordinasi
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Larasati et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: