This study examines the forms of social harmony and the factors sustaining relations between followers of the Naqsabandiyah Khalidiyah and Akmaliyah Sufi orders in Banjarejo Village, Grobogan, Central Java, Indonesia. Using a qualitative case study approach, the research explores socio-religious interactions, attitudes toward differences in spiritual practices, and economic interdependence between the two communities. Data were collected through purposive interviews with spiritual guides (mursyids) and followers of both Sufi orders and analyzed thematically. The findings indicate that harmonious relations are maintained despite differences in religious leadership, spiritual lineages, devotional practices, and socioeconomic backgrounds. Such harmony is sustained through shared religious and community activities, spiritual guidance emphasizing a common commitment to drawing closer to God, and economic cooperation between farmers and traders in the supply of agricultural inputs and the marketing of agricultural produce. These findings demonstrate that differences in Sufi affiliations do not necessarily create barriers to social interaction. Rather, shared activities, mutual respect, and economic interdependence provide important foundations for maintaining relationships across Sufi communities. This study contributes to the understanding of social Sufism by highlighting how everyday religious, social, and economic practices can sustain harmony without requiring uniformity in spiritual traditions. Keywords: Social Sufism; Sufi Orders; Inter-Tariqa Relations; Social Harmony; Economic Interdependence. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk keharmonisan sosial dan faktor-faktor yang mendukung keberlangsungan hubungan antara pengikut Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah dan Tarekat Akmaliyah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Fokus penelitian meliputi interaksi sosial-keagamaan, penyikapan terhadap perbedaan praktik spiritual, serta keterkaitan kepentingan ekonomi antarkelompok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan mursyid dan jamaah dari kedua tarekat yang dipilih secara purposif, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keharmonisan sosial berlangsung di tengah perbedaan kepemimpinan, silsilah, pola amalan, dan latar belakang sosial ekonomi jamaah. Keharmonisan tersebut didukung oleh kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan bersama, arahan mursyid yang menekankan kesamaan tujuan spiritual, serta hubungan ekonomi antara petani dan pedagang dalam penyediaan sarana pertanian dan pemasaran hasil panen. Temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan afiliasi tarekat tidak serta-merta menjadi penghalang bagi interaksi sosial. Dalam kehidupan masyarakat Desa Banjarejo, kegiatan bersama, penghargaan terhadap perbedaan, dan keterkaitan kepentingan ekonomi menjadi ruang penting bagi terpeliharanya hubungan antarkelompok. Penelitian ini menegaskan relevansi perspektif tasawuf sosial dalam memahami keharmonisan masyarakat melalui praktik keseharian tanpa menuntut keseragaman spiritual.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Mustaqfiroh et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: