This qualitative case study examines how Islamic religious leadership and multicultural educational practices contributed to reconciliation following the 2006 mass carok conflict in Bujur Tengah, Madura. Drawing on interviews, community observations, and reported focus-group discussions, it identifies two related practices: peace-oriented moral education through kiai-led religious gatherings and the rebuilding of relationships through schooling and inter-faction family ties. The findings are interpreted through a provisional Integrative Multicultural Resolution (IMR) framework comprising religious moral education, educational reconstruction, and kinship-based rapprochement. Rather than establishing a causal or universally replicable model, the study illustrates how local Islamic authority may provide a socially legitimate setting for dialogue, forgiveness, and non-violent coexistence. These findings contribute to Islamic Studies by showing how religious ethics and pesantren-linked educational networks can operate as resources for community reconciliation. Further longitudinal evidence is required to establish the durability and wider transferability of these practices. Keywords: Islamic multicultural education; carok; reconciliation; kiai; Madura ABSTRAK Penelitian studi kasus kualitatif ini mengkaji kontribusi kepemimpinan keagamaan Islam dan praktik pendidikan multikultural terhadap rekonsiliasi pascakonflik carok massal tahun 2006 di Desa Bujur Tengah, Madura. Berdasarkan wawancara, observasi komunitas, dan diskusi kelompok terfokus yang dilaporkan dalam naskah, penelitian ini menemukan dua praktik yang saling berkaitan: pendidikan moral perdamaian melalui pertemuan keagamaan yang dipimpin kiai serta pemulihan hubungan sosial melalui pendidikan dan ikatan keluarga lintas kelompok. Temuan tersebut ditafsirkan melalui kerangka tentatif Resolusi Multikultural Integratif (RMI) yang mencakup pendidikan moral keagamaan, rekonstruksi pendidikan, dan pendekatan kekerabatan. Penelitian ini tidak mengklaim telah membuktikan hubungan kausal maupun keberlakuan universal model tersebut. Kontribusinya terhadap Studi Islam terletak pada penjelasan mengenai etika keagamaan dan jaringan pendidikan pesantren sebagai sumber dialog, pemaafan, serta hidup berdampingan tanpa kekerasan. Bukti longitudinal tambahan dibutuhkan untuk menguji keberlanjutan dan penerapannya di konteks lain.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Sayyi et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: