The Program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM second period of 2025 was held in Padukuhan Soronandan, Kalurahan Sendangejo, Kapanewon Minggir, Sleman Regency, Yogyakarta. Students from the Faculty of Animal Science at UGM focused their program on utilizing rice straw, an agricultural waste product, as a village resource to be processed into ruminant livestock feed using ammoniation feed preservation technology. Although the village has an abundance of rice straw, its use as feed is limited due to its low protein content (3–4%) and high crude fiber content. Consequently, the community often burns the straw, negatively impacting the surrounding environment's air quality. The program included direct training and demonstrations for partners, including farmer and livestock groups in Padukuhan Soronandan. The ammoniation straw production process involves adding 3–5% urea, fermenting it under anaerobic conditions, and harvesting it after 21 days to enhance its nutritional value, digestibility, and storage efficiency as feed. The results showed that the community was enthusiastic and increased their knowledge and skills in processing agricultural waste into economical feed. This program indirectly strengthens the integration of the agricultural and livestock sectors in the village. Keywords: ammoniation; feed livestock; rice straw; ruminant ABSTRAK Program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM Periode II Tahun 2025 dilaksanakan di Padukuhan Soronandan, Kalurahan Sendangejo, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Salah satu fokus program yang dilakukan oleh mahasiswa KKN PPM yaitu pada pemanfaatan limbah pertanian berupa jerami padi sebagai potensi desa untuk diolah menjadi pakan ternak ruminansia melalui teknologi pengawetan pakan amoniasi. Potensi jerami di desa yang melimpah, namun dari segi pemanfaatan sebagai pakan masih terbatas, sebab kandungan protein yang rendah (3—4%) dan tingginya kandungan serat kasar, sehingga pengolahan yang sering dilakukan oleh masyarakat adalah dengan cara dibakar. Hal ini akan berdampak buruk pada kualitas udara di lingkungan sekitar. Kegiatan ini melalui penyuluhan dan demonstrasi secara langsung pada mitra (kelompok tani dan peternak di Padukuhan Soronandan). Proses pembuatan jerami amoniasi dilakukan dengan penambahan urea 3—5%, difermentasi dalam keadaan anaerob, dan dapat dipanen setelah 21 hari atau 3 minggu untuk meningkatkan nilai nutrisi, kecernaan, dan daya simpan pakan yang lebih efisien. Hasil kegiatan menunjukkan masyarakat antusias, sehingga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan limbah pertanian menjadi pakan yang ekonomis. Program ini secara tidak langsung berkontribusi menjadi penguat integrasi sektor pertanian dan peternakan di desa. Kata kunci: amoniasi; jerami padi; pakan ternak; ruminansia
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Anisah et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: