Qualitative research identifies gaps in disaster preparedness in early childhood education, highlighting the need for targeted teacher training.
Disaster mitigation needs to be introduced in early childhood education institutions.This study was motivated the high disaster risk in Gorontalo Regency, while disaster preparedness education in early childhood centers remains incomplete. This qualitative research aims to identify disaster mitigation learning at TK Pembina Limboto, located in Limboto Village, Gorontalo Regency. The study involved eight teachers as participants. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using an interpretative phenomenological approach, grouping statements based on teachers’ experiences, perceptions, and reflections, while also considering the social-emotional context.The findings reveal that disaster mitigation learning at TK Pembina Limboto only covers the pre-disaster and during-disaster phases, focusing on prevention and self-rescue. Teachers have never received disaster preparedness training, so their understanding is limited to basic concepts. However, the simulation based learning applied in the school has shaped teachers’ perception that disaster learning is an important risk reduction effort, as reflected in the emotional responses of children and parents.The implications of this study highlight the need for disaster training for early childhood teachers, the provision of safe school facilities in accordance with Ministry of Education and Culture Regulation No. 33 of 2019, and the integration of a disaster mitigation curriculum that includes pre-disaster, during-disaster, and post-disaster phases. These steps are expected to strengthen the school’s role as an agent of disaster risk reduction. Abstrak Pembelajaran mitigasi bencana perlu diajarkan di lembaga PAUD, mengingat anak usia dini merupakan salah satu kelompok rentan saat terjadi bencana.Penelitian ini dilatarbelakangi tingginya risiko bencana di Kabupaten Gorontalo, sementara pendidikan kesiapsiagaan bencana di PAUD belum komprehensif. Studi kualitatif ini bertujuan untuk mengidentifikasi pembelajaran mitigasi bencana di TK Pembina Limboto, Kelurahan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Subjek penelitian adalah 8 orang guru utama. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis dengan pendekatan fenomenologi interpretatif, mengelompokkan pernyataan berdasarkan pengalaman, persepsi, dan refleksi guru, serta mempertimbangkan konteks sosial-emosional.Hasil penelitian menunjukkan implementasi pembelajaran mitigasi bencana di TK Pembina Limboto hanya mencakup fase pra dan saat bencana, dengan fokus pencegahan dan penyelamatan diri. Guru juga belum pernah menerima pelatihan kesiapsiagaan, sehingga pemahaman terbatas pada konsep dasar. Namun, pembelajaran berbasis simulasi yang diterapkan memengaruhi persepsi guru bahwa pendidikan bencana penting sebagai upaya pengurangan risiko, terlihat dari respon emosional anak dan orang tua.Implikasi penelitian ini menekankan pelatihan kebencanaan bagi guru PAUD, penyediaan fasilitas sekolah aman sesuai Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019, serta integrasi kurikulum mitigasi bencana yang mencakup fase pra, saat, dan pasca bencana. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat peran sekolah sebagai agen pengurangan risiko bencana. Kata kunci: Pembelajaran Mitigasi Bencana; PAUD; Kesiapsiagaan Bencana
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Talango et al. (2025) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: