Key result
Most outpatients with coronary heart disease report adequate quality of life, with ~63% in that category.
Why the study?
Kualitas hidup pasien jantung koroner di Pusat Jantung Terpadu RSUP Haji Adam Malik Medan belum memiliki data spesifik meskipun berdampak signifikan pada outcome kesehatan.
Cross-Sectional (n=88)
No
Most patients with coronary heart disease in this Indonesian cohort demonstrated a sufficient quality of life, highlighting the potential for further improvement through structured cardiac rehabilitation and lifestyle modifications.
Small observational sample should not yet change practice; leaves open whether QoL profiles differ from prior reports in broader CHD populations.
Penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian global yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Penelitian sebelumnya menunjukkan mayoritas pasien penyakit jantung koroner memiliki kualitas hidup kurang baik berkisar 58,3%-70,9%, yang dipengaruhi oleh karakteristik demografi, faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti hipertensi, merokok, diabetes melitus, obesitas, dan penyesuaian gaya hidup berkelanjutan. Di Pusat Jantung Terpadu RSUP Haji Adam Malik Medan terdapat 727 pasien penyakit jantung koroner pada bulan Juli 2024, namun belum ada data spesifik mengenai gambaran kualitas hidup pasien tersebut. Kualitas hidup yang buruk dapat meningkatkan mortalitas, menurunkan produktivitas kerja, menimbulkan isolasi sosial, distress emosional, dan depresi yang berdampak pada keinginan mempercepat kematian pada pasien sakit parah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran kualitas hidup pasien jantung koroner di Pusat Jantung Terpadu RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2024 untuk memberikan informasi penting bagi pengembangan strategi peningkatan kualitas hidup dan outcome kesehatan pasien jantung koroner. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Populasi penelitian adalah 727 pasien jantung koroner periode Juli 2024, dengan sampel sebanyak 88 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF terdiri dari 26 pertanyaan mencakup empat domain: kesehatan fisik (7 pertanyaan), psikologis (5 pertanyaan), hubungan sosial (3 pertanyaan), dan lingkungan (8 pertanyaan) dengan kategorisasi skor kurang (0-25), cukup (26-50), baik (51-75), dan sangat baik (76-100). Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif univariat. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki kualitas hidup cukup sebesar 62,5% (55 orang), kualitas hidup baik 36,4% (32 orang), dan sangat baik hanya 1,1% (1 orang). Karakteristik demografi menunjukkan rerata usia 51,65 tahun dengan dominasi perempuan 55,7%, pendidikan SMA/SMK 70,5%, beragama Islam 59,1%, tidak memiliki penyakit penyerta 71,6%, dan rerata lama menderita 40,09 bulan. Kesimpulan penelitian menyimpulkan bahwa kualitas hidup pasien jantung koroner masih perlu ditingkatkan melalui modifikasi gaya hidup, program rehabilitasi jantung terstruktur, peningkatan pengetahuan manajemen penyakit, dukungan psikososial, dan penguatan kesejahteraan spiritual untuk mengoptimalkan outcome kesehatan jangka panjang.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Siallagan et al. (2026) conducted a cross-sectional in Coronary Heart Disease (Penyakit Jantung Koroner) (n=88). Coronary heart disease was evaluated on Quality of life based on WHOQOL-BREF categorization. Among outpatients with coronary heart disease, 62.5% had an adequate (cukup) quality of life, 36.4% had a good (baik) quality of life, and 1.1% had a very good (sangat baik) quality of life.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: