Persaingan antar lembaga pendidikan dasar mendorong perlunya strategi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang terukur dan berbasis data. SD Swasta Muhammadiyah 28 Pulo Brayan, Medan, menghadapi kendala dalam menentukan wilayah prioritas promosi karena selama ini kegiatan promosi dilakukan secara merata tanpa mempertimbangkan potensi masing-masing wilayah. Penelitian ini menerapkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) secara terintegrasi untuk menganalisis 12 wilayah kelurahan asal siswa berdasarkan 5 kriteria: jumlah siswa existing, jarak ke sekolah, jumlah TK/PAUD, jumlah SD/MI pesaing, dan skor aksesibilitas jalan. AHP digunakan untuk menentukan bobot setiap kriteria melalui perbandingan berpasangan, sedangkan TOPSIS digunakan untuk meranking seluruh wilayah alternatif. Sistem Pendukung Keputusan (SPK) berbasis web dibangun menggunakan PHP dan MySQL sebagai antarmuka penerapan metode tersebut. Hasil perhitungan AHP menunjukkan bahwa kriteria jumlah siswa existing memiliki bobot tertinggi (38,65%) dengan nilai Consistency Ratio (CR) sebesar 0,0039, jauh di bawah ambang batas 0,1 yang disyaratkan. Hasil perankingan TOPSIS menempatkan Kelurahan Pulo Brayan Darat II pada peringkat pertama (nilai preferensi 0,7877), diikuti oleh Kelurahan Tanjung Mulia (0,7607) dan Kelurahan Pulo Brayan Bengkel (0,6549). Pengujian fungsionalitas sistem menggunakan black box testing terhadap 13 skenario menunjukkan tingkat keberhasilan 100%. Penelitian ini memberikan kontribusi pada penerapan SPK berbasis AHP-TOPSIS pada domain pemasaran pendidikan di tingkat kelurahan.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Aini et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: