This is the authors' abstract. We don't add key points for this paper.
Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi sebesar 30,8% di Indonesia. Di Kabupaten Pesawaran terdapat 103.814 penderita hipertensi, namun hanya 55,3% yang memperoleh pelayanan kesehatan, sedangkan di wilayah kerja Puskesmas Kota Dalam terdapat 8.205 penderita hipertensi dan hanya 58,2% yang mendapatkan pelayanan kesehatan. Rendahnya sikap pengendalian tekanan darah diduga dipengaruhi oleh gaya komunikasi tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan pengaruh gaya komunikasi tenaga kesehatan terhadap sikap pengendalian tekanan darah pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Kota Dalam Kabupaten Pesawaran Tahun 2026. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experiment three-group pretest-posttest. Populasi berjumlah 8.205 penderita hipertensi dengan sampel 90 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling dan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu komunikasi pasif, agresif, dan asertif. Data dianalisis secara univariat, Mixed Repeated Measures ANOVA, dan uji lanjut Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan seluruh kelompok mengalami peningkatan skor sikap pengendalian tekanan darah: kelompok pasif dari 80,567 menjadi 95,133 (selisih 14,566), kelompok agresif dari 80,533 menjadi 104,100 (selisih 23,567), dan kelompok asertif dari 80,167 menjadi 121,300 (selisih 41,133). Hasil Between-Subjects Effects menunjukkan perbedaan yang bermakna antar kelompok (F=29,075; p=0,000), dan uji Bonferroni menunjukkan seluruh pasangan kelompok berbeda signifikan (pasif vs agresif p=0,033; pasif vs asertif p=0,000; agresif vs asertif p=0,000). Gaya komunikasi asertif merupakan pendekatan komunikasi yang paling efektif dalam meningkatkan sikap pengendalian tekanan darah pasien hipertensi. Tenaga kesehatan di Puskesmas Kota Dalam disarankan menerapkan komunikasi asertif secara konsisten agar sikap pasien dalam pengendalian tekanan darah dapat meningkat.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Wulandari et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: