Transformasi digital Perhutani telah ditopang oleh pemanfaatan sistem informasi geospasial untuk pengumpulan, pemusatan, dan penyajian informasi pengelolaan hutan. Namun, sistem geospasial belum secara otomatis menyediakan pemantauan mikroklimat secara kontinu, analisis risiko multimodal, dan peringatan dini yang terhubung langsung dengan tindak lanjut petugas. Penelitian ini bertujuan merancang kerangka teknologi hutan cerdas yang mengintegrasikan sensor Internet of Things (IoT), komunikasi Long Range (LoRa), Sistem Informasi Geografis (GIS), citra satelit dan wahana udara nirawak (UAV), serta kecerdasan buatan (AI) untuk pemantauan kesehatan hutan dan deteksi dini risiko kebakaran pada kawasan yang dikelola Perhutani. Penelitian menggunakan pendekatan design science research melalui analisis kebutuhan, perancangan arsitektur, pemodelan skor risiko, simulasi berbasis rentang data UCI Forest Fires, dan penyusunan indikator evaluasi. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi GIS Perhutani dengan pemantauan lingkungan berdaya rendah, penilaian risiko multimodal, dan validasi petugas dalam satu siklus operasional tertutup. Hasil simulasi menunjukkan skor rata-rata meningkat dari 0,148 pada kategori rendah menjadi 0,870 pada kategori kritis. Kerangka yang diusulkan memberikan dasar terukur untuk uji percontohan dan kalibrasi menggunakan data lokal Perhutani.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Ahmad et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: