Answers are grounded in this paper and cite their sources.
Fenomena news snacking atau kebiasaan mengonsumsi berita sekilas di media sosial kerap dicap buruk sebagai tanda kemunduran literasi audiens muda. Penelitian ini bertujuan untuk membedah konstruksi makna dan rasionalitas praktis di balik perilaku news snacking pada kelompok Older Generasi Z di platform Instagram. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan tradisi fenomenologi Alfred Schutz, penelitian ini menggali pengalaman hidup tujuh informan melalui wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan news snacking bukanlah tanda kemunduran berpikir, melainkan strategi adaptasi yang masuk akal terhadap ekosistem media digital yang penuh sesak dengan informasi. Pada dimensi motif sebab (because motives), tindakan ini berakar dari kebutuhan menjaga efisiensi kognitif sebagai cara melindungi diri dari kelelahan mental akibat rumitnya tampilan dan alur portal berita konvensional. Pada dimensi motif tujuan (in-order-to motives), subjek mengonsumsi berita instan demi mempertahankan relevansi sosial dan mendukung pekerjaan tanpa banyak menyita waktu. Pemaknaan yang terbentuk memperlihatkan pergeseran budaya literasi, di mana berita dimanfaatkan secara praktis sebagai panduan situasi, modal pergaulan, serta hiburan visual. Temuan ini menuntut pengelola media informasi digital serta praktisi komunikasi strategis untuk menyusun pesan yang ringkas, bernilai guna langsung, dan selaras dengan batas perhatian audiens digital.Kata Kunci: Soft Masculinity; gaya berpakaian; Instagram; semiotika Roland Barthes; representasi.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Ramadhan et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: