This is the authors' abstract. We don't add key points for this paper.
Media sosial telah menjadi arena utama bagi Generasi Z dalam memproduksi dan mereproduksi identitas budaya, namun bagaimana wacana identitas tersebut dikonstruksi, dinegosiasikan, dan dipengaruhi oleh relasi kuasa digital masih memerlukan kajian kritis. Penelitian ini menganalisis representasi identitas budaya Generasi Z dalam konten media sosial menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-analitis dengan kerangka Discourse-Historical Approach dari Wodak dan dimensi tiga-level Fairclough (teks, praktik wacana, praktik sosial). Data dikumpulkan melalui observasi konten dan analisis interaksi pengguna pada platform media sosial seperti TikTok dan Instagram, dengan fokus pada bagaimana strategi diskursif nominasi, predikasi, dan argumentasi digunakan untuk membentuk representasi identitas budaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa identitas budaya Generasi Z direpresentasikan melalui nilai inklusivitas, keberanian mengekspresikan identitas, dan kesadaran sosial yang diartikulasikan melalui narasi personal dan humor . Konteks sosial-budaya lokal dan global berperan penting dalam membentuk strategi wacana, sementara algoritma platform berfungsi sebagai gatekeeper yang mengatur distribusi dan visibilitas wacana, sehingga produksi identitas budaya tidak dapat dilepaskan dari interaksi antara kreator, audiens, dan teknologi . Temuan ini mengimplikasikan bahwa identitas budaya Generasi Z di media sosial bersifat negotiatif dan dikonstruksi dalam relasi kuasa digital yang kompleks, bukan sekadar ekspresi bebas.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Rahmad et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: