Answers are grounded in this paper and cite their sources.
Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, memiliki potensi komoditas aren yang dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber kegiatan ekonomi melalui produksi gula aren. Namun, pemanfaatan komoditas tersebut masih perlu dikembangkan melalui diversifikasi produk yang sesuai dengan kapasitas dan spesialisasi kelompok usaha. Kegiatan ini bertujuan untuk memetakan spesialisasi produksi kelompok pengolah gula aren di Desa Bonto Manurung, mengembangkan Standar Operasional Prosedur (SOP) produk diversifikasi, meningkatkan pengetahuan mitra mengenai diversifikasi dan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), serta mengevaluasi perubahan pengetahuan setelah pelatihan. Kegiatan dilaksanakan pada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Aren Jaya dan KUPS Aren Tompobulu dengan menggunakan pendekatan diversifikasi berbasis spesialisasi kelompok. Tahapan kegiatan meliputi pemetaan kapasitas mitra, pengembangan dan uji coba SOP, pelatihan, demonstrasi, praktik produksi, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Sebanyak 35 peserta menyelesaikan pre-test dan post-test secara lengkap. Hasil kegiatan menghasilkan tiga produk diversifikasi, yaitu teng-teng, gula cair pandan, dan gula semut jahe, yang disesuaikan dengan produk utama masing-masing kelompok di Desa Bonto Manurung. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 68,19 menjadi 86,10, sehingga terjadi peningkatan sebesar 26% dengan perbedaan yang signifikan (p < 0,01) dan ukuran efek yang besar (Cohen's d = 1,04). Pendekatan diversifikasi berbasis spesialisasi menunjukkan potensi sebagai strategi pemberdayaan masyarakat Desa Bonto Manurung untuk mengembangkan nilai tambah komoditas aren melalui pemanfaatan kapasitas produksi lokal. Kata kunci: Gula aren, Diversifikasi produk, Pemberdayaan masyarakat, Transfer teknologi. ABSTRACT Bonto Manurung Village, Tompobulu District, Maros Regency, has considerable potential for sugar palm commodities, which are utilized by the local community as a source of economic activity through sugar palm production. However, the utilization of this commodity still needs to be developed through product diversification tailored to the capacity and specialization of each business group. This activity aimed to map the production specialization of sugar palm processing groups in Bonto Manurung Village, develop Standard Operating Procedures (SOPs) for diversified products, improve partners’ knowledge of product diversification and Good Manufacturing Practices (GMP), and evaluate changes in knowledge following the training. The activity was conducted with KUPS Aren Jaya and KUPS Aren Tompobulu using a group specialization-based diversification approach. The activities consisted of capacity mapping, SOP development and trials, training, demonstrations, production practices, and evaluation using pre-tests and post-tests. A total of 35 participants completed the pre-test and post-test completely. The results produced three diversified products, namely teng-teng, pandan-flavored liquid sugar, and ginger-flavored granulated sugar, which were tailored to the main products of each group in Bonto Manurung Village. The average knowledge score increased from 68.19 to 86.10, representing a 26% increase that was statistically significant (p < 0.01) and had a large effect size (Cohen’s d = 1.04). The specialization-based diversification approach demonstrates potential as a community empowerment strategy for increasing the added value of sugar palm commodities through the utilization of local production capacities in Bonto Manurung Village.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Arifin et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: