Kabupaten Bantaeng merupakan wilayah agraris dengan potensi pengembangan padi yang besar sebagai komoditas strategis dalam mendukung ketahanan pangan. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah varietas padi genjah yang memiliki umur panen lebih singkat dan berpotensi meningkatkan efisiensi usahatani. Namun demikian, tingkat adopsinya di tingkat petani masih relatif rendah dan bervariasi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi petani serta mengidentifikasi faktor-faktor penentu dalam penggunaan varietas padi genjah. Kegiatan dilaksanakan melalui bimbingan teknis (BIMTEK) yang dikombinasikan dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner terhadap 17 petani anggota Kelompok Tani Lamalaka 2 di Kabupaten Bantaeng. Data dianalisis secara deskriptif melalui distribusi frekuensi dan pendekatan analisis konten untuk mengidentifikasi faktor dominan. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar petani memiliki persepsi positif terhadap varietas padi genjah, terutama pada keunggulan umur panen yang lebih cepat dan potensi hasil yang relatif tinggi. Meskipun demikian, tingkat adopsi masih rendah, yang ditunjukkan oleh terbatasnya petani yang telah membudidayakan varietas tersebut. Faktor utama yang memengaruhi rendahnya adopsi meliputi keterbatasan ketersediaan benih, harga benih yang relatif tinggi, serta kurangnya pengetahuan teknis budidaya. Selain itu, karakteristik petani seperti pengalaman bertani dan luas lahan turut memengaruhi keputusan adopsi. Melalui pengabdian ini, kegiatan BIMTEK berperan sebagai tahap awal dalam meningkatkan pemahaman dan kesiapan petani. Namun, diperlukan dukungan lanjutan untuk mendorong adopsi varietas padi genjah secara lebih luas dan berkelanjutan. Kata kunci: Bimbingan teknis, Kuisioner, Lamalaka 2, Padi genjah, Pertanian berkelanjutan. ABSTRACT Bantaeng Regency is an agricultural region with significant potential for rice development as a strategic commodity in supporting food security. One of the innovations introduced is an early-maturing rice variety, which has a shorter harvest cycle and the potential to improve farming efficiency. However, its adoption rate among farmers remains relatively low and varies. This community service activity aims to analyze farmers’ perceptions and identify the determining factors in the use of early-maturing rice varieties. The activity was carried out through technical guidance (BIMTEK) combined with data collection using a questionnaire administered to 17 farmer members of the Lamalaka 2 Farmers’ Group in Bantaeng Regency. Data were analyzed descriptively using frequency distributions and a content analysis approach to identify dominant factors. The results indicate that most farmers hold positive perceptions of early-maturing rice varieties, particularly regarding the advantages of a shorter harvest period and relatively high yield potential. Nevertheless, adoption rates remain low, as evidenced by the limited number of farmers who have cultivated these varieties. Key factors influencing low adoption include limited seed availability, relatively high seed prices, and a lack of technical cultivation knowledge. Additionally, farmer characteristics such as farming experience and land area also influence adoption decisions. Through this community service initiative, the BIMTEK training serves as an initial step in enhancing farmers’ understanding and readiness; however, continued support is needed to promote the broader and sustainable adoption of early-maturing rice varieties.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Anshori et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: