This study is motivated by the declining use of sagata, a form of Lampung oral literature, due to the influence of global culture and reduced transmission of the local language to younger generations. It aims to describe the implementation of sagata instruction among fifth-grade students at MIN 10 Bandar Lampung, including planning, implementation, evaluation, and supporting/inhibiting factors. A qualitative descriptive approach was used. The subjects were three participants: one Lampung language teacher, one madrasah principal, and one fifth-grade student selected through purposive sampling. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed through data condensation, data display, and conclusion drawing; data validity was established through triangulation. Findings show that instructional planning was carried out systematically, covering module development, objective formulation, material selection, method selection, media preparation, and evaluation planning. Supporting factors included madrasah support, teachers’ roles, and student enthusiasm, while inhibiting factors included limited sagata-specific teaching materials, varying student vocabulary mastery, and the declining everyday use of sagata. Overall, sagata instruction has been implemented in a structured manner, though further strengthening of materials, media, and practice opportunities is needed to sustain its preservation through formal education. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menurunnya penggunaan sagata, salah satu bentuk sastra lisan masyarakat Lampung, akibat derasnya arus budaya global serta berkurangnya pewarisan bahasa daerah kepada generasi muda. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pembelajaran sastra lisan sagata pada siswa kelas V MIN 10 Bandar Lampung, mencakup perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta faktor pendukung dan penghambat pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian berjumlah tiga orang, yaitu satu guru Bahasa Lampung, satu kepala madrasah, dan satu siswa kelas V yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran sagata dilakukan secara sistematis melalui penyusunan modul ajar, perumusan tujuan, penentuan materi, pemilihan metode, penyiapan media, dan perencanaan evaluasi. Faktor pendukung meliputi dukungan madrasah, peran guru, serta antusiasme siswa, sementara faktor penghambat mencakup keterbatasan bahan ajar khusus sagata, perbedaan penguasaan kosakata bahasa Lampung, dan berkurangnya penggunaan sagata dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi pembelajaran sagata telah terlaksana secara terstruktur, meskipun masih memerlukan penguatan bahan ajar, media, dan kesempatan praktik untuk mendukung keberlanjutan pelestariannya melalui pendidikan formal.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Agustia et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: