The digitization of hadith texts has become an important issue in Islamic boarding school education because it changes access to, learning of, and transmission of religious knowledge traditionally grounded in teacher guidance and the sanad tradition. This study aims to analyze the opportunities, challenges, and impacts of hadith text digitization on traditional scholarly authority in pesantren across Indonesia and dayah in Aceh. The study employs a library research method involving the analysis of 14 scholarly journal articles relevant to hadith text digitization, pesantren learning, knowledge transmission, and religious authority. The articles were prioritized from publications between 2021 and 2026 based on topical relevance and source credibility. Data were analyzed qualitatively through content analysis and thematic synthesis. The findings indicate that digitization broadens access to hadith literature, facilitates hadith searching and takhrij, and supports students’ independent learning. The identified challenges include digital source validity, superficial understanding of hadith, changes in knowledge transmission, and the emergence of new religious authorities. Digitization does not eliminate teachers’ roles but encourages the development of hybrid scholarly authority. Therefore, technology integration needs to be accompanied by stronger digital literacy, source verification, hadith methodology, and guidance from teachers and teungku. ABSTRAK Digitalisasi kitab hadis menjadi isu penting dalam pendidikan pesantren karena mengubah pola akses, pembelajaran, dan transmisi pengetahuan keagamaan yang selama ini bertumpu pada bimbingan guru dan tradisi sanad. Penelitian ini bertujuan menganalisis peluang, tantangan, serta dampak digitalisasi kitab hadis terhadap otoritas keilmuan tradisional pada pesantren di Indonesia dan dayah di Aceh. Penelitian menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan menganalisis 14 artikel jurnal ilmiah yang relevan dengan digitalisasi kitab hadis, pembelajaran pesantren, transmisi pengetahuan, dan otoritas keagamaan. Artikel diprioritaskan dari publikasi tahun 2021–2026 dengan mempertimbangkan relevansi topik dan kredibilitas sumber. Data dianalisis secara kualitatif melalui analisis isi (content analysis) dan sintesis tematik. Hasil analisis menunjukkan bahwa digitalisasi memperluas akses terhadap literatur hadis, mempercepat penelusuran dan takhrij, serta mendukung kemandirian belajar santri. Tantangan yang ditemukan meliputi validitas sumber digital, risiko pemahaman hadis yang dangkal, perubahan pola transmisi ilmu, dan munculnya otoritas keagamaan baru. Digitalisasi tidak menghilangkan peran guru, tetapi mendorong terbentuknya otoritas keilmuan hibrida. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi perlu disertai penguatan literasi digital, verifikasi sumber, metodologi hadis, dan bimbingan guru serta teungku.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Sela et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: