Problem-solving skills are essential to develop in early childhood so that children can identify problems, consider alternatives, and determine solutions independently. However, teacher-centered learning may limit children's opportunities to explore and experiment with different problem-solving strategies. This study aims to describe the implementation of the Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) approach using loose parts materials and the development of early childhood problem-solving skills. A qualitative descriptive method was employed at RA Nurhayati, Medan Tembung, involving teachers and 30 children aged 5–6 years. Data were collected through observation, interviews, and documentation, with credibility supported by triangulation of techniques and sources. The findings indicate that constructing a bridge for toy cars provided opportunities for children to identify problems, select materials, design solutions, test alternatives, revise constructions, and evaluate outcomes. Children also engaged in experimentation, communication, collaboration, and creative material use. These findings suggest that the STEAM approach using loose parts can support the development of early childhood problem-solving skills through active, contextual, and child-centered learning experiences. ABSTRAK Keterampilan pemecahan masalah (problem solving) penting dikembangkan sejak usia dini agar anak mampu mengenali permasalahan, mempertimbangkan alternatif, dan menentukan solusi secara mandiri. Namun, pembelajaran yang masih berpusat pada guru dapat membatasi kesempatan anak untuk bereksplorasi dan mencoba berbagai strategi penyelesaian masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) berbasis media loose parts serta perkembangan keterampilan pemecahan masalah anak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif di RA Nurhayati, Kecamatan Medan Tembung, dengan melibatkan guru dan 30 anak usia 5–6 tahun. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta diperiksa melalui triangulasi teknik dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan merancang jembatan untuk mobil mainan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengidentifikasi masalah, memilih bahan, merancang solusi, mencoba alternatif, memperbaiki konstruksi, dan mengevaluasi hasil. Anak juga menunjukkan keterlibatan dalam eksperimen, komunikasi, kolaborasi, dan penggunaan material secara kreatif. Dengan demikian, pendekatan STEAM berbasis media loose parts berpotensi mendukung perkembangan keterampilan pemecahan masalah melalui pengalaman belajar yang aktif, kontekstual, dan berpusat pada anak.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Yusnita et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: