Tuberculosis remains a public health problem in Indonesia and globally, with uneven distribution of cases across regions. The spread of TB is strongly influenced by environmental and demographic factors, particularly population density. Densely populated areas can increase the risk of bacterial transmission. This study aims to analyze patient characteristics, spatial distribution patterns, and the relationship between population density and the spread of pulmonary TB cases. This study used a correlational design with a cross-sectional approach. The data used were secondary data from 207 pulmonary TB patients at the Dr. H. A. Rotinsulu Lung Hospital in Bandung, and were described univariately, bivariately, and spatially. The results showed that most patients were of productive age (75.3%), male (66.1%), had a high school/vocational high school education (56.06%), and most worked as private employees (22.71%). Patients were spread across various regions. There was a significant relationship (p = 0.032) between population density and the distribution pattern of pulmonary TB, with a positive relationship strength (r = 0.393) in the weak category. The importance of complete and accurate recording and reporting so that it can be used in spatial analysis in identifying regional risks, determining screening priorities, and strengthening regional-based TB control through coordination of health services. Keywords: Bandung City, Distribution Pattern, Spatial Analysis, Tuberculosis. ABSTRAK Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat di Indonesia maupun secara global, dengan distribusi kasus tidak merata antar wilayah. Penyebaran TB sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan demografi, terutama kepadatan penduduk. Wilayah padat penduduk dapat meningkatkan risiko transmisi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik pasien, pola sebaran spasial, serta hubungan dengan kepadatan penduduk dengan distribusi kasus TB paru. Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder dengan jumlah 207 pasien TB paru di RS Paru dr. H. A. Rotinsulu Bandung dan dianalisis secara univariat, bivariat, dan spasial. Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas pasien berusia produktif (75,3%), berjenis kelamin laki-laki (66,1%), pendidikan terakhir SMA/SMK (56,06%), dan sebagian besar bekerja sebagai pegawai swasta (22,71%). Pasien tersebar di berbagai wilayah. Ada hubungan yang signifikan (p = 0.032) antara kepadatan penduduk dengan pola sebaran TB paru dengan kekuatan hubungan positif (r = 0.393) dalam kategori lemah. Pentingnya pencatatan dan pelaporan yang lengkap dan akurat agar dapat digunakan dalam analisis spasial dalam mengidentifikasi wilayah risiko, menentukan prioritas skrining, dan memperkuat pengendalian TB berbasis wilayah melalui koordinasi layanan kesehatan.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Mayasari et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: