Answers are grounded in this paper and cite their sources.
This study examines the meaning of as-Shamad in Surah al-Ikhlas (Q.S. 112:2) through an analytical study of Fakhruddin ar-Razi’s classical exegetical work Mafatih al-Ghaib, and explores its implications for contemporary Muslim life. Using a qualitative library research method with a thematic (maudhu‘i) approach and descriptive-analytical analysis, this study draws on primary sources including the Qur’an and ar-Razi’s tafsir, supplemented by related classical and contemporary scholarship. The findings reveal that ar-Razi’s interpretation of as-Shamad encompasses multiple dimensions: linguistically, it denotes absolute self-sufficiency and the ultimate refuge; theologically, it affirms Allah’s independence from all creation while all creation remains utterly dependent on Him; and philosophically, it establishes an ontological distinction between Creator and created. In the contemporary context, this concept directly challenges the growing tendency of modern humans to place dependence on material wealth, social status, and worldly power rather than on Allah. The study argues that internalizing as-Shamad into lived practice through tawakkul, spiritual tranquility, and existential God-consciousness bridges the gap between formal religious observance and authentic tawhidic living. This study contributes to the actualization of classical Qur’anic exegesis within the modern era. [Penelitian ini mengkaji makna as-Shamad dalam Surah al-Ikhlas (Q.S. 112:2) melalui studi analitis terhadap karya tafsir klasik Mafatih al-Ghaib karya Fakhruddin ar-Razi, serta menelaah implikasinya dalam kehidupan Muslim kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan tematik (maudhu‘i) dan analisis deskriptif-analitis. Sumber data utama meliputi al-Qur’an dan tafsir ar-Razi, yang didukung oleh literatur klasik dan kontemporer yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran ar-Razi terhadap as-Shamad mencakup berbagai dimensi: secara linguistik, menunjuk pada kemandirian mutlak dan tempat bergantung yang paling utama; secara teologis, menegaskan bahwa Allah tidak bergantung pada apa pun, sementara seluruh makhluk sepenuhnya bergantung kepada-Nya; dan secara filosofis, menegaskan adanya perbedaan ontologis antara Sang Pencipta dan ciptaan. Dalam konteks kontemporer, konsep ini menjadi kritik terhadap kecenderungan manusia modern yang menggantungkan diri pada materi, status sosial, dan kekuatan duniawi, alih-alih kepada Allah. Penelitian ini menegaskan bahwa internalisasi nilai as-Shamad dalam kehidupan melalui sikap tawakal, ketenangan spiritual, dan kesadaran ketuhanan yang eksistensial dapat menjembatani kesenjangan antara praktik keagamaan formal dan penghayatan tauhid yang autentik.]
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Marwa et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 10 related papers. Consider them for comparative context: