Pembangunan infrastruktur pendidikan tinggi, khususnya Gedung Laboratorium Terpadu UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan Tahap II, memerlukan pengendalian biaya dan waktu yang cermat mengingat kompleksitas pekerjaan arsitektur dan MEP di dalamnya. Proyek dengan nilai kontrak Rp18.868.137.928,93 dan durasi 115 hari kalender ini dievaluasi menggunakan metode Earned Value untuk mengetahui kinerja biaya dan waktu hingga minggu ke-12, dilanjutkan dengan metode Crashing melalui penambahan tenaga kerja pada pekerjaan jalur kritis guna mengoptimalkan sisa pekerjaan. Hasil analisis Earned Value menunjukkan Schedule Variance (SV) positif sebesar Rp601.746.933,98 dan Cost Variance (CV) positif Rp5.788.982,81, dengan SPI 1,05108 dan CPI 1,00047 yang mengindikasikan proyek berjalan lebih cepat dari jadwal dan lebih hemat dari anggaran. Estimasi biaya akhir (EAC) sebesar Rp16.990.375.412,56 menghasilkan efisiensi Rp7.947.045,93 (0,045%), dengan estimasi waktu penyelesaian (EAS) 16,757 minggu. Simulasi Crashing pada pekerjaan kritis menghasilkan percepatan durasi 7,13%–14,67% disertai kenaikan cost slope yang bervariasi antar item pekerjaan. Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan proyek berada dalam kondisi lebih cepat dari jadwal dan lebih efisien dari anggaran, sementara penerapan metode Crashing terbukti mampu mempercepat penyelesaian pekerjaan kritis dengan tambahan biaya yang relatif terkendali, sehingga kombinasi Earned Value dan Crashing efektif digunakan sebagai alat pengendalian proyek konstruks.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Mal et al. (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: