Petani hortikultura di Kota Kupang mengusahakan sayuran di lahan kering beriklim semi-arid dengan ketergantungan tinggi pada pupuk dan pestisida kimia sintetis. Kajian ini bertujuan merumuskan kebijakan daerah untuk menurunkan ketergantungan tersebut. Data primer diperoleh dari survei terhadap 56 petani anggota kelompok tani di Kecamatan Oebobo, Maulafa, Kota Raja, dan Alak pada September 2026, dilengkapi kajian regulasi dan literatur. Masalah utama ditentukan dengan metode USG, akar masalah ditelusuri melalui pohon masalah, dan alternatif kebijakan dinilai dengan kriteria Bardach dan Dunn. Hasil survei menunjukkan 82,1% petani belum pernah mengikuti pelatihan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), 89,3% merasakan hama makin kebal, 94,6% merasakan penurunan kondisi tanah, 87,5% pernah mengalami keluhan kesehatan setelah menyemprot, dan 91,1% menilai biaya input memberatkan. Sebanyak 75,0% petani bersedia beralih jika ada jaminan hasil, dan 75,0% menyatakan kebutuhan utama berupa kepastian pasar. Akar masalahnya adalah belum tersedianya pembeli terjamin yang menghargai mutu rendah residu. Kajian ini merekomendasikan Peraturan Wali Kota tentang Pengembangan Hortikultura Perkotaan Rendah Residu melalui Kemitraan Pasar yang terintegrasi dengan Sekolah Lapang PHT, dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu pembeli utama.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Rammy Bili Lalo (2026) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: